ASKEP SARS Nanda Nic Noc Terbaru

Sebelum kita masuk kedalam pembahasan ASKEP SARS, kita akan membahas sekilas apa itu penyakit SARS biar langsung bisa koneks disaat kita masuk kedalam pembahasan asuhan keperawatan dibawah ini.

Sindrom Pernapasan Akut Berat (bahasa Inggris: Severe Acute Respiratory Syndrome, SARS) adalah sebuah jenis penyakit pneumonia. SARS pertama kali muncul pada November 2002 di Provinsi Guangdong, Tiongkok. SARS sekarang dipercayai disebabkan oleh virus SARS. Sekitar 10% dari penderita SARS meninggal dunia.
asuhan keperawatan SARS Nanda Nic Noc Terbaru

KATA PENGANTAR
Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberi rahmat dan karunia-Nya sehingga makalah tentang “SARS” ini dapat terselesaikan. Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Sistem Respirasi 2. 

Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan sesuai dengan waktunya. Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini. 

Semoga makalah ini memberikan informasi bagi masyarakat dan bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan bagi kita semua.

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR 1
DAFTAR ISI 2
BAB I  PENDAHULUAN 3
1.1 LATAR BELAKANG 3
1.2 RUMUSAN MASALAH 3
1.3 TUJUAN 3

BAB II  TINJAUAN TEORI 4
2.1 PENGERTIAN 4
2.2 ETIOLOGI 4
2.3 PATOFISIOLOGI 5
2.4 PATHWAY 6
2.5 TANDA DAN GEJALA. 7
2.6 PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK..... 8
2.7 PENATALAKSANAAN 8
2.8 KOMPLIKASI 8

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN 10
3.1 PENGKAJIAN 10
3.2 PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK 11
3.3 DIAGNOSA KEPERAWATAN 11
3.3 RENCANA INTERVENSI DAN RASIONAL 12

BAB IV PENUTUP 22
4.1 KESIMPULAN 22
4.2 SARAN 22

DAFTAR PUSTAKA 23

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah

SARS itu singkatan dari Severe Acute Respiratory Syndrome atau Corona Virus Pneumonia (CVP), suspek (suspect case) terjadi pada seseorang setelah 1 Februari 2003 lalu. Wabah penyakit gangguan pernapasan misterius ini terus melanda kawasan Asia dan terus meminta korban. Seorang pasien di Hongkong menjadi korban tewas keenam di wilayah administrative. 

1.2 Rumusan Masalah
1. Mengetahui definisi penyakit SARS?
2. Mengetahui etiologi penyakit SARS?
3. Menjelaskan patofisiologi penykit SARS?
4. Mengetahui Pathway SARS?
5. Mengetahui tanda dan gejala  penyakit SARS?
6. Mengetahui  pemeriksaan diagnostik  pada penyakit SARS?
7. Mengetahui penatalaksanaan pada penyakit SARS?
8. Mengetahui komplikasi pada penyakit SARS?
9. Mengetahui diagnosa keperawatan yang muncul pada penyakit SARS?
10. Mengetahui perencanaan keperawatan pada penyakit SARS?

1.3 Tujuan Penulisan 
Tujuan dan maksud dari pembutan makalah ini, adalah kami bermaksud membahas dan berbagi pengetahuan  tentang  ”Penyakit SARS” seperti yang tertera pada rumusan masalah di atas. Kami bertujuan & berharap semoga makalah ini dapat menjadi referensi dan berguna bagi para pembaca.

BAB II

TINJAUAN TEORI

2. 1 Definisi SARS
SARS (sindrom pernafasan akut yang parah) adalah sekelompok gejala nyeri pernafasan mendadak dan berat atau juga disebut infeksi pernafasan yang disebabkan oleh virus Keluarga Coryxovirus.

SARS (sindrom pernafasan akut yang parah) adalah jenis gagal paru-paru dengan berbagai kelainan yang berbeda, yang menyebabkan pengumpulan cairan di paru-paru (edema paru).

2.2 Etiologi
Etiologi SARS masih dipelajari. Pada 7 April 2003, WHO mengumumkan perjanjian bahwa coronavirus yang baru diidentifikasi adalah mayoritas agen penyebab SARS. Coronavirus berasal dari kata "Corona" yang berasal dari bahasa Latin yang berarti "mahkota". Ini sesuai dengan bentuk Coronavirus itu sendiri yang bila dilihat dengan mikroskop terlihat seperti mahkota.

Penyebab lain dapat disebabkan oleh penyakit apa pun, yang secara langsung atau tidak langsung melukai paru-paru, termasuk:
  • Pneumonia
  • Tekanan darah sangat rendah (syok)
  • Inhalasi makanan ke paru-paru (inhalasi muntah dari lambung)
  • Transfusi darah berganda
  • Kerusakan paru-paru akibat menghirup oksigen konsentrasi tinggi
  • Emboli paru
  • Cidera dada
  • Overdosis obat seperti heroin, metadon, propoksifen atau aspirin
  • Trauma hebat
  • Transfusi darah (terutama dalam jumlah yang sangat besar).


2.3 Patofisiologi
Penyebab SARS disebabkan oleh coronavirus (family paramoxyviridae) yang diperiksa dengan mikroskop elektron. Virus ini stabil dalam feses dan urin pada suhu kamar selama 1-2 hari dan dapat bertahan lebih dari 4 hari pada penderita diare. 

Seperti virus lain, korona menyebar melalui udara, memasuki saluran pernapasan, dan kemudian bersarang di paru-paru. Kemudian inkubasi di paru-paru selama 2-10 hari yang kemudian menyebabkan paru-paru menjadi meradang sehingga sulit bernapas.
Metode penularannya adalah melalui udara dan kontak langsung dengan pasien atau terkena cairan pasien. Misalnya terkena air liur (droplet) ketika pasien bersin dan batuk. Dan mungkin juga melalui pakaian dan peralatan yang terkontaminasi.

Cara penularan: SARS ditularkan melalui kontak dekat, misalnya ketika merawat pasien, tinggal di rumah yang sama dengan pasien atau kontak langsung dengan cairan tubuh atau cairan dari tersangka atau kemungkinan pasien. 

Penularan melalui udara, misalnya distribusi udara, ventilasi, di dalam kendaraan atau di dalam suatu bangunan tidak diharapkan terjadi, selama tidak ada kontak langsung dengan penderita SARS. Sementara itu, masa menular adalah ketika ada demam atau tanda-tanda masalah pernapasan sampai penyakit tersebut dinyatakan sembuh.

Masa transmisi berlangsung kurang dari 21 hari. Petugas kesehatan yang memiliki kontak langsung dengan penderita memiliki risiko tertular tertinggi, terutama mereka yang mengambil tindakan pada sistem pernapasan seperti intubasi atau nebulasi.

2.4 PATHWAY
ASKEP SARS Nanda Nic Noc Terbaru

2.4 Tanda dan Gejala SARS
Suhu tubuh lebih dari 38oC, ditambah batuk, sulit bernafas, dan sesak napas. Jika gejala-gejala ini telah terjadi dan memiliki kontak dekat dengan pasien dengan penyakit ini, orang dapat disebut tersangka SARS. 

Jika setelah sinar-X, pneumonia (pneumonia) atau kegagalan pernafasan terjadi, orang tersebut dapat disebut kemungkinan SARS atau dapat diduga memiliki SARS.
Gejala lainnya adalah sakit kepala, kekakuan otot, diare yang tak kunjung berhenti, bintik-bintik merah muncul di kulit, dan tubuh lemas selama beberapa hari. Ini semua adalah gejala yang terlihat yang dapat dirasakan langsung oleh orang yang dicurigai menderita SARS. 

Tetapi gejalanya tidak cukup kuat jika tidak ada kontak langsung dengan pasien. Pemeriksaan medis masih diperlukan sebelum seseorang menyimpulkan memiliki penyakit ini. Paru-parunya mengalami peradangan, limfositnya menurun, trombositnya juga bisa berkurang. 

Ketika berat, oksigen dalam darah berkurang dan enzim hati akan meningkat. Ini semua adalah gejala yang dapat dilihat dengan perangkat medis. Namun semua gejalanya masih bisa berubah. Penelitian berlanjut hari ini.

2.5 Pemeriksaan Penunjang
1) Pemeriksaan radiologis: bronkogram udara: Streptococcus pneumonia.
2) Pada pemeriksaan fisik: dengan menggunakan stetoskop, bunyi pernapasan abnormal (seperti kresek atau mengi). Tekanan darah seringkali rendah dan kulit, bibir dan kuku pasien tampak kebiru-biruan (sianosis, karena kekurangan oksigen).
3) Tes yang biasa dilakukan untuk mendiagnosis SARS:
Sebuah. Radiografi dada (menunjukkan retensi cairan di mana udara harus diisi)
b. Gas darah arteri
c. Hitung golongan darah dan kimia darah
d. Bronkoskopi.
4) Pemeriksaan Laboratorium: Leukosit.
5) Pemeriksaan bakteriologis: aspirasi dahak, darah, nasotrakeal atau transtrakeal, aspirasi jarum transtorakal, thoracentesis, bronscoscopy, biopsi
6) Tes sekuensing DNA untuk coronavirus yang dapat diperoleh dalam waktu 8 jam dan sangat akurat. Tes panjang hanya dapat mendeteksi antibodi.


2.6 Penatalaksanaan
1. Terapi suportif umum
meningkatkan daya tahan tubuh dalam bentuk nutrisi yang memadai, pemberian multivitamin dan lainnya.
  • Terapi oksigen
  • Humidifikasi dengan nebulizer
  • Fisioterapi dada
  • Regulasi cairan
  • Pemberian kortokosteroid dalam fase sepsis berat
  • Obat inotropik
  • Ventilasi mekanis
  • Drainase empyema
  • Jika ada gagal napas, nutrisi dengan kalori cukup diberikan


2. Terapi antibiotik
Agen anti-bakteri secara rutin diresepkan untuk SARS karena memberikan fitur tes laboratorium yang tidak spesifik dan cepat untuk mendiagnosis virus SARS-cov dalam beberapa hari pertama infeksi belum tersedia. 

Antibiotik empiris yang tepat diperlukan untuk menutupi patogen pernapasan umum per pedoman pengobatan nasional atau lokal untuk pneumonia yang didapat masyarakat atau nosokomial.
Setelah mengesampingkan patogen lain, terapi antibiotik dapat ditarik. Selain efek antibakteri mereka, beberapa antibiotik imunomodulator diketahui memiliki sifat, khususnya kuinolon dan makrolida. Efeknya pada kursus SARS belum ditentukan.

SARS dapat hadir dengan spektrum keparahan penyakit. Sebagian kecil pasien dengan penyakit ringan sembuh baik dalam bentuk khusus tanpa pengobatan atau terapi antibiotik saja.
Antibiotik:
  • Idealnya berdasarkan jenis kuman penyebabnya
  • Jurusan ini ditujukan untuk S. pneumonia, H. Influenza dan S. Aureus


2.7 Komplikasi SARS
1. Abses paru-paru
2. Efusi pleura
3. Empicema
4. Gagal bernafas
5. Perikarditis
6. Meningitis
7. Atelektasis
8. Hipotensi
9. Delirium
10. Asidosis metabolik
11. Dehidrasi

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN SARS  

3.1 Penilaian
3.1.1 Identitas pasien
Nama, usia, jenis kelamin, pendidikan, kepercayaan, pekerjaan, status perkawinan, dan alamat.

3.1.2 Riwayat kesehatan
Sejak kapan, kondisi / kelumpuhan semakin memburuk, upaya dilakukan selama menderita penyakit.

3.1.3 Penilaian fisik
B1:
Inspeksi: Sesak, batuk, nyeri dada, penggunaan otot pernapasan, peningkatan pernapasan diafragma dan perut, pernapasan lobus hidung, pola pernapasan cepat dan dangkal, retraksi otot pernapasan, RR> 30x / menit.
Palpasi: penurunan fremitus vokal.
Perkusi: suara perkusi lemah hingga tuli.
Auskultasi: Ronkhi basah, nafas bronkial berbunyi.

B2:
Sianosis, denyut nadi> 100x / menit, CRT> 3 detik, BGA menunjukkan hipoksemia, S1 dan S2 saja.

B3:
Sakit kepala, penurunan kesadaran.

B4:
Terkadang produksi urin menurun

B5:
Mual, muntah, diare, peningkatan bunyi usus, nafsu makan berkurang.

B6:
Nyeri otot, kelemahan otot.

3.2 Pemeriksaan Diagnostik
1) Pemeriksaan radiologis: bronkogram udara: Streptococcus pneumonia.
2) Pada pemeriksaan fisik: dengan menggunakan stetoskop, bunyi pernapasan abnormal (seperti kresek atau mengi). Tekanan darah seringkali rendah dan kulit, bibir dan kuku pasien tampak kebiru-biruan (sianosis, karena kekurangan oksigen).
3) Tes yang biasa dilakukan untuk mendiagnosis SARS:
Sebuah. Radiografi dada (menunjukkan retensi cairan di mana udara harus diisi)
b. Gas darah arteri
c. Hitung golongan darah dan kimia darah
d. Bronkoskopi.
4) Pemeriksaan Laboratorium: Leukosit.
5) Pemeriksaan bakteriologis: aspirasi dahak, darah, nasotrakeal atau transtrakeal, aspirasi jarum transtorakal, thoracentesis, bronscoscopy, biopsi
6) Tes sekuensing DNA untuk coronavirus yang dapat diperoleh dalam waktu 8 jam dan sangat akurat. Tes panjang hanya dapat mendeteksi antibodi.

3.3 Diagnosa Keperawatan
1. Izin jalan nafas tidak secara efektif terkait dengan peradangan dan obstruksi jalan nafas.
2. Defisit volume cairan terkait dengan asupan oral yang tidak adekuat, takipnea, demam.
3. Ketidakseimbangan gizi yang kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan untuk masuk karena faktor biologis.
4. Nyeri yang terkait dengan agen cedera biologis (kerusakan organ)
5. Pola napas tidak efektif terkait dengan hiperventilasi (RR> 24x / menit) atau hipoventilasi (RR <16x / menit).

3.4 Rencana Tindakan Keperawatan
No
Diagnosa keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil
Intervensi
1
Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan inflamasi dan obstruksi jalan nafas.

NOC :
Respiratory status : Ventilation
Respiratory status : Airway patency

Kriteria Hasil :
Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan dyspneu
Menunjukkan jalan nafas yang paten
Mampu mengidentifikasikan dan mencegah factor yang dapat menghambat jalan nafas
NIC :
Airway suction
Pastikan kebutuhan oral atau tracheal suctioning
Auskultasi suara nafas sebelum dan sesudah suctioning.
Informasikan pada klien dan keluarga tentang suctioning
Minta klien nafas dalam sebelum suction dilakukan.
Berikan O2 dengan menggunakan nasal untuk memfasilitasi suksion nasotrakeal
Gunakan alat yang steril setiap melakukan tindakan
Anjurkan pasien untuk istirahat dan napas dalam setelah kateter dikeluarkan dari nasotrakeal
Monitor status oksigen pasien
Ajarkan keluarga bagaimana cara melakukan suksion
Hentikan suksion dan berikan oksigen apabila pasien menunjukkan bradikardi, peningkatan saturasi O2, dan lain-lain.

Airway Management
Buka jalan nafas, guanakan teknik chin lift atau jaw thrust bila perlu
Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan nafas buatan
Lakukan fisioterapi dada jika perlu
Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
Kolaborasi pemberian bronkodilator bila perlu
Atur intake untuk cairan mengoptimalkan keseimbangan.
Monitor respirasi dan status O2
2
Defisit Volume cairan berhubungan dengan intake oral tidak adekuat, takipneu, demam

NOC:
Fluid balance
Hydration
Nutritional Status : Food and Fluid Intake

Kriteria Hasil :
Mempertahankan urine output sesuai dengan usia dan BB, BJ urine normal, HT normal
Tekanan darah, nadi, suhu tubuh dalam batas normal
Tidak ada tanda tanda dehidrasi, Elastisitas turgor kulit baik, membran mukosa lembab, tidak ada rasa haus yang berlebihan
Fluid management
Pertahankan catatan intake dan output yang akurat
Monitor status hidrasi ( kelembaban membran mukosa, nadi adekuat, tekanan darah ortostatik ), jika diperlukan
Monitor vital sign
Monitor masukan makanan / cairan dan hitung intake kalori harian
Lakukan terapi IV
Monitor status nutrisi
Berikan cairan
Dorong masukan oral
Berikan penggantian nesogatrik sesuai output
Dorong keluarga untuk membantu pasien makan
Kolaborasi dokter jika tanda cairan berlebih muncul meburuk
Atur kemungkinan tranfusi
Persiapan untuk tranfusi
3.
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan pemasukan berhubungan dengan faktor biologis (sesak nafas).
NOC :
Status nutrisi, setelah diberikan penjelasan dan perawatan kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi dengan kriteria hasil :
Pemasukan nutrisi yang adekuat
Pasien mampu menghabiskan diet yang dihidangkan
Tidak ada tanda-tanda malnutrisi
Nilai laboratorim, protein total 8-8 gr%, Albumin 3.5-5.4 gr%, Globulin 1.8-3.6 gr%, HB tidak kurang dari 10 gr %
Membran mukosa dan konjungtiva tidak pucat
NIC:
Eating disorder manajemen
Tentukan kebutuhan kalori harian
Ajarkan klien dan keluarga tentang pentingnya nutrient
Monitoring TTV dan nilai  Laboratorium
Monitor intake dan output
Pertahankan kepatenan pemberian nutrisi parenteral
Pertimbangkan nutrisi enteral
Pantau adanya Komplikasi GI

Terapi gizi
Monitor masukan makanan atau minuman dan hitung kalori harian secara tepat
Kolaborasi ahli gizi
Pastikan dapat diet TKTP (tinggi kalori tinggi protein)
Berikan perawatan mulut
Pantau hasil labioratoriun protein, albumin, globulin, HB
Jauhkan benda-benda yang tidak enak untuk dipandang seperti urinal, kotak drainase, bebat dan pispot
Sajikan makanan hangat dengan variasi yang menarik




4
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan isolasi respiratory.

NOC :
Energy conservation
Self Care : ADLs
Kriteria Hasil :
Berpartisipasi dalam aktivitas fisik tanpa disertai peningkatan tekanan darah, nadi dan RR
Mampu melakukan aktivitas sehari hari (ADLs) secara mandiri
NIC :
Activity Therapy
Kolaborasikan dengan Tenaga Rehabilitasi Medik dalam merencanakan program terapi yang tepat.
Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas yang mampu dilakukan
Bantu untuk memilih aktivitas konsisten yang sesuai dengan kemampuan fisik, psikologi dan social
Bantu untuk mengidentifikasi dan mendapatkan sumber yang diperlukan untuk aktivitas yang diinginkan
Bantu untuk mendapatkan alat bantuan aktivitas seperti kursi roda, krek
Bantu untuk mengidentifikasi aktivitas yang disukai
Bantu klien untuk membuat jadwal latihan diwaktu luang
Bantu pasien/keluarga untuk mengidentifikasi kekurangan dalam beraktivitas
Bantu pasien untuk mengembangkan motivasi diri dan penguatan
Monitor respon fisik, emosi, social dan spiritual

Energy Management
Observasi adanya pembatasan klien dalam melakukan aktivitas
Dorong anal untuk mengungkapkan perasaan terhadap keterbatasan
Kaji adanya factor yang menyebabkan kelelahan
Monitor nutrisi  dan sumber energi
Monitor pasien akan adanya kelelahan fisik dan emosi secara berlebihan
Monitor respon kardiovaskuler  terhadap aktivitas
Monitor pola tidur dan lamanya tidur/istirahat pasien











5
Defisit pengetahuan berhubungan dengan perawatan
NOC :
Knowledge : disease process
Knowledge : health Behavior
Kriteria Hasil :
Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman tentang penyakit, kondisi, prognosis dan program pengobatan
Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan secara benar
 Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan perawat/tim kesehatan lainnya









NIC :
Teaching : disease Process
Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan pasien tentang proses penyakit yang spesifik
Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana hal ini berhubungan dengan anatomi dan fisiologi, dengan cara yang tepat.
Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit, dengan cara yang tepat
Gambarkan proses penyakit, dengan cara yang tepat
Identifikasi kemungkinan penyebab, dengna cara yang tepat
Sediakan informasi pada pasien tentang kondisi, dengan cara yang tepat
Hindari harapan yang kosong
Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan untuk mencegah komplikasi di masa yang akan datang dan atau proses pengontrolan penyakit
Diskusikan pilihan terapi atau penanganan
Dukung pasien untuk mengeksplorasi atau mendapatkan second opinion dengan cara yang tepat atau diindikasikan
Eksplorasi kemungkinan sumber atau dukungan, dengan cara yang tepat
Instruksikan pasien mengenai tanda dan gejala untuk melaporkan pada pemberi perawatan kesehatan.


BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
SARS (sindrom pernafasan akut yang parah) adalah sekelompok gejala nyeri pernafasan mendadak dan berat atau juga disebut infeksi pernafasan yang disebabkan oleh virus Keluarga Coryxovirus.
SARS (sindrom pernafasan akut yang parah) adalah jenis gagal paru-paru dengan berbagai kelainan yang berbeda, yang menyebabkan pengumpulan cairan di paru-paru (edema paru).

4.2 Saran
Kami sebagai mahasiswa Keperawatan diharapkan untuk memahami dan memahami Perawatan Perawat untuk Klien SARS, dan kami meminta kritik bagi pembaca Perawatan yang kami buat sehingga kami dapat membuat makalah ini dengan lebih baik.

REFERENSI
Brunner & Suddarth, 2002, Medical Nursing Nursing Textbook, edisi 8 volume 3, EGC, Jakarta
Jong, W, 1997, Textbook of Surgery, EGC Jakarta
Mansjoer, Arif et al. Capita Selekta Medical Volume II Edisi Ketiga. 1999. Media Aesculapius: Jakarta.
Mansjoer, Arif et al. Capita Selekta Medical Volume II Edisi Ketiga. 1999. Media Aesculapius: Jakarta.
http://www.infection.com/articles.php?lng=in&pg=63

0 Response to "ASKEP SARS Nanda Nic Noc Terbaru"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel