Laporan Pendahuluan GEA Nanda Nic Noc Terbaru

LAPORAN PENDAHULUAN GEA
BAB II
TINJAUAN TEORI


A. PENGERTIAN 
Gastroenteritis adalah buang air besar dengan frekuensi yang tidak normal (meningkat) dan konsistensi tinja yang lebih lembek atau cair (Suharyono: 2008). 

Gastroenteritis adalah buang air besar dengan tinja berbentuk cair atau setengah cair dengan kandungan air tinja lebih banyak dari biasanya lebih dari 200 gram atau 200 ml/24 jam (Simadibrata: 2006). Gastroenteritis adalah buang air besar dengan fases berbentuk cair atau setengah cair, dengan demikian kandunngan air pada feses lebih banyak dari biasanya  (Priyanta: 2009). 

Gastroenteritis  didefinisikan sebagai peningkatan frekuensi, volume, dan kandungan fluida dari tinja. Propulsi yang cepat dari isi usus melalui hasil usus kecil diare dan dapat menyebabkan defisit volume cairan serius. 

Penyebab umum adalah infeksi, sindrom malabsorpsi, obat, alergi, dan penyakit sistemik. (Black Joyce, Hawks Jane, 2010) Jadi dapat disimpulkan gastroenteritis adalah buang air besar dengan frekuensi tidak normal dan konsistensi tinja yang lebih lembek atau cair, dengan kandungan air pada feses lebih banyak dari biasanya yaitu lebih dari 200 gram atau 200 ml/24 jam. 

B. Etiologi  
Menurut Simadibrata (2006) diare dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: Infeksi yang disebabkan oleh bakteri: shigella sp, E.coli pathogen, salmonella sp, vibrio cholera, yersinia entero colytika, campylobacter jejuni, v.parahaemolitikus, staphylococcus aureus, klebsiella, pseudomonas, aeromonas, dll. 

Virus: rotavirus,adenovirus, Norwalk virus, Norwalk like virus, cytomegalovirus, echovirus. Makanan beracun atau mengandung logam, makanan basi, makan makanan yang tidak biasa misalnya makanan siap saji, makanan mentah, makanan laut. Obat-obatan tertentu (penggantian hormone tiroid, pelunak feses dan laksatif, antibiotik, kemoterapi, dan antasida). 

C. Manifestasi Klinis 
Ditandai dengan  meningkatnya kandungan cairan dalam feses , pasien terlihat sangat lemas, kesadaran menurun, kram perut, demam, muntah, gemuruh usus (borborigimus), anoreksia, dan haus. Kontraksi spasmodik yang nyeri dan peregangan yang tidak efektif pada anus, dapat terjadi setiap defekasi. 


Perubahan tanda-tanda vital seperti nadi dan respirasi cepat, tekanan darah turun, serta denyut jantung cepat. Pada kondisi lanjut akan didapatkan tanda dan gejala dehidrasi, meliputi: Turgor kulit menurun kurang dari 3 detik, pada anak-anak ubun-ubun dan mata cekung membran mukosa kering dan di sertai penurunan berat badan akut, keluar keringat dingin.(Muttaqin:2011) 

D. Pathofisiologi 
Proses terjadinya diare dapat disebabkan oleh berbagai kemungkinan faktor di antaranya faktor infeksi, proses ini dapat diawali adanya mikroorganisme (kuman) yang masuk ke dalam saluran pencernaan yang kemudian berkembang dalam usus dan merusak sel mukosa usus yang dapat menurunkan daerah permukaan usus. 


Selanjutnya terjadi perubahan kapasitas usus yang akhirnya mengakibatkan gangguan fungsi usus menyebabkan sistem transpor aktif dalam usus sehingga sel mukosa mengalami iritasi yang kemudian sekresi cairan dan elektrolit akan meningkat kemudian menyebabkan diare. Iritasi mukosa usus dapat menyebabkan peristaltik usus meningkat. 

Kerusakan pada mukosa usus juga dapat menyebabkan malabsorbsi merupakan kegagalan dalam melakukan absorbsi yang mengakibatkan tekanan osmotik meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit ke rongga usus yang dapat meningkatkan isi rongga usus sehingga terjadilah diare.(Simadibrata: 2006).

E. PATHWAY GEA
Laporan Pendahuluan GEA Nanda Nic Noc Terbaru
Sumber: Carpenito (2009) & Simadibrata (2006)
klik gambar untuk memperbesar


F. Pemeriksaan Penunjang  
Menurut Davey (2005) pemeriksaan gastroenterititis yang dapat dilakukan yaitu: 
1. Tes darah lengkap, 
anemia atau trombositosis mengarahkan dugaan adanya penyakit kronis. Albumim yang rendah bisa menjadi patokan untuk 
tingkat  keparahan penyakit namun tidak spesifik.  
2. Kultur tinja bisa mengidentifikasi organisme penyebab. 
Bakteri C.difficile ditemukan pada 5% orang sehat. Oleh karenanya diagnosis di tegakan berdasarkan adanya gejala disertai ditemukanya toksin, bukan berdasar ditemukanya organisme saja. 
3. Foto polos abdomen, 
pada foto polos abdomen bisa terlhat kalsifikasi pankreas, walaupun diduga terjadi insufiensi pankreas, sebaiknya diperiksa dengan endoscopic retrograde cholangiopancreatography (ERCP) atau CT pancreas. 

G. Penatalaksanaan Medis 
Menurut Davey (2005) langkah penatalaksanaan rehidrasi adalah mengistirahatkan usus dan memberi rehidrasi secara parenteral. 

Kemudian mengobati penyakit yang mendasari: pemberian antibiotik  atau steroid bisa diberikan jika pada pemeriksaan penunjang ditemukan patogen spesifik atau bukti adanya penyakit inflamasi usus. Metronidazol atau vankomisin dipakai pada kolitis pseudomembranosa.   

0 Response to "Laporan Pendahuluan GEA Nanda Nic Noc Terbaru "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel