Laporan Pendahuluan Typhoid Nanda Nic Noc Terbaru

LAPORAN PENDAHULUAN
DEMAM TYPHOID


A. DEFINISI
Demam Thypoid atau thypoid fever ialah suatu sindrom sistemik yang terutama disebabkan oleh salmonella typhi. Demam tifoid merupakan jenis terbanyak dari salmonelosis. Jenis lain dari demam enterik yaitu demam paratifoid yang disebabkan oleh S. Paratyphi A dan S. Schottmuelleri (semula S. Paratyphi B) serta S. Hirschfeldii (semula S. Paratyphi C). 

Demam tifoid memperlihatkan gejala lebih berat dibandingkan demam enterik yang lain (Widagdo, 2011, hal: 197). Menurut Ngastiyah (2005, hal: 236) Tifus abdominalis (demam tifoid, enteric fever) ialah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan demam lebih dari satu minggu, gangguan pada pencernaan,dan gangguan kesadaran. 

Menurut Soedarto (2009, hal: 128) Penyakit infeksi usus yang disebut juga sebagai Tifus abdominalis atau Typhoid Fever ini disebabkan oleh kuman Salmonella typhiatauSalmonella paratyphi A, B, dan C. Demam tifoid merupakan masalah kesehatan yang penting di Indonesia maupun di daerahdaerah tropis dan subtropis di seluruh dunia.  

Beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa penyakit demam tifoid atau tifus abdominalis adalah suatu penyakit infeksi akut yang menyerang manusia khususnya pada saluran pencernaan yaitu pada usus halus yang disebabkan oleh kuman salmonella typhi yang masuk melalui makanan atau minuman yang tercemar dan ditandai dengan demam berkepanjangan lebih dari satu minggu, gangguan pada saluran pencernaan, dan lebih diperburuk dengan gangguan penurunan kesadaran. 

B. ETIOLOGI
Menurut Widagdo (2011, hal: 197) Etiologi dari demam Thypoid adalah Salmonella typhi, termasuk genus Salmonella yang tergolong dalam famili Enterobacteriaceae. Salmonella bersifat bergerak, berbentuk spora, tidak berkapsul, gram (-). Tahan terhadap berbagai bahan kimia, tahan beberapa hari / minggu pada suhu kamar, bahan limbah, bahan makanan kering, bahan farmasi, dan tinja. 

Salmonella mati pada suhu 54,4º C dalam 1 jam atau 60º C dalam 15 menit. Salmonella mempunyai antigen O (somatik) adalah komponen dinding sel dari lipopolisakarida yang stabil pada panas dan antigen H (flagelum) adalah protein yang labil terhadap panas. Pada S. typhi, juga pada S. Dublin dan S. hirschfeldii terdapat antigen Vi yaitu polisakarida kapsul.  

C. MANIFESTASI KLINIS
Menurut Ngastiyah (2005, hal: 237) Gambaran klinik demam tifoid pada anak biasanya lebih ringan daripada orang dewasa. Penyakit ini masa tunasnya 10-20 hari, tersingkat 4 hari jika infeksi terjadi melalui makanan. 

Sedangkan jika melalui minuman yang terlama 30 hari. Selama masa inkubasi, mungkin akan ditemukan tanda dan gejala prodromal yaitu merasa tidak enak badan, lesu, pusing, nyeri kepala dan tidak bersemangat serta nafsu makan berkurang.  Gambaran klinis yang biasa ditemukan  adalah sebagai berikut, menurut Ngastiyah (2005, hal: 237)  

1. Demam
Pada kasus demam typhoid yang khas, demam berlangsung selama 3 minggu, bersifat febris remiten dan suhu tidak terlalu tinggi. Selama minggu pertama, suhu tubuh berangsur-angsur naik setiap harinya, umumnya menurun di pagi hari dan sksn nsik lagi pada sore hari dan malam hari. 

Dalam minggu ke 2, klien terus berada dalam kondisi demam. Pada minggu ke 3, suhu tubuh akan berangsur-angsur turun dan menjadi normal kembali di akhir minggu ke 3.

2. Gangguan pada saluran pencernaan 
Pada mulut terdapat nafas berbau tidak sedap, bibir kering, dan pecahpecah (ragaden), lidah tertutup selaput putih kotor (coated tongue), ujung dan tepinya kemerahan, jarang disertai tremor. 

Pada abdomen dapat ditemukan keadaan perut kembung (meteorismus), hati dan limpa membesar disertai nyeri pada perabaan. Biasanya sering terjadi konstipasi tetapi juga dapat terjadi diare atau normal 

3. Gangguan kesadaran 
Umumnya kesadaran pasien menurun walaupun tidak dalam yaitu apatis sampai samnolen, jarang terjadi sopor, koma atau gelisah kecuali penyakitnya berat dan terlambat mendapatkan pengobatan. Di samping gejala tersebut mungkin terdapat gejala lainnya. 

Pada punggung dan anggota gerak dapat ditemukan roseola yaitu bintik-bintik kemerahan karena emboli basil dalam kapiler kulit yang dapat ditemukan pada minggu pertama yaitu demam. Kadang-kadang ditemukan pula bradikardi dan epitaksis pada anak dewasa 

4. Relaps 
Kambuh (Relaps) yaitu berulangnya gejala penyakit tifus abdominalis, akan tetapi berlangsung secara ringan dan  dalam kurun waktu yang lebih singkat. Terjadi pada minggu kedua setelah suhu badan normal kembali, terjadinya sukar diterangkan. 
Menurut teori relaps terjadi karena terdapatnya basil dalam organ-organ yang tidak dapat dimusnahkan baik oleh obat maupun oleh zat anti. Mungkin akan terjadi di waktu penyembuhan tukak, terjadi invasi basil bersamaan dengan pembentukan jaringan fibrosis. 

D. PATOFISIOLOGI
Kuman masuk melalui mulut, sebagian kuman akan dimusnahkan dalam lambung oleh asam lambung. Sebagian kuman lagi masuk ke usus halus, ke jaringan limfoid dan berkembang biak menyerang usus halus. Kemudian kuman masuk ke peredaran darah (bakterimia primer), dan mencapai sel-sel retikulo endoteleal, hati, limpa dan organ lainnya.

Baca Juga: LP Bronkitis

Proses ini terjadi dalam masa tunas dan akan berakhir saat sel-sel retikulo endoteleal melepaskan kuman ke dalam peredaran darah dan menimbulkan bakterimia untuk kedua kalinya. Selanjutnya kuman masuk ke beberapa jaringan organ tubuh terutama limpa, usus, dan kandung empedu  (Suriadi &Yuliani, 2006, hal: 254). Pada minggu pertama sakit, terjadi hiperplasia plaks player. 

Ini terjadi pada kelenjar limfoid usus halus. Minggu kedua terjadi nekrosis dan pada minggu ketiga terjadi ulserasi plaks player. Pada minggu keempat terjadi penyembuhan ulkus yang dapat menimbulkan sikatrik. Ulkus dapat menyebabkan perdarahan, bahkan sampai perforasi usus. Selain itu hepar, kelenjar-kelenjar mesentrial dan limpa membesar. 

Gejala demam disebabkan oleh endotoksil, sedangkan gejala pada saluran pencernaan disebabkan oleh kelainan pada usus halus (Suriadi &Yuliani, 2006, hal: 254). 

E. PATHWAY
pathway demam typoid
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Menurut Suriadi & Yuliani (2006, hal: 256) pemeriksaan penunjang demam tifoid adalah:  
1. Pemeriksaan darah tepi  Leukopenia, limfositosis, aneosinofilia, anemia, trombositopenia 
2. Pemeriksaan sumsum tulang Menunjukkan gambaran hiperaktif sumsum tulang 
3. Biakan empedu Terdapat basil salmonella typhosa pada urin dan tinja. Jika pada pemeriksaan selama dua kali berturut-turut tidak didapatkan basil salmonella typhosa pada urin dan tinja, maka pasien dinyatakan betulbetul sembuh 
4. Pemeriksaan widal Didapatkan titer terhadap antigen 0 adalah 1/200 atau lebih, sedangkan titer terhadap antigen H walaupun tinggi akan tetapi tidak bermakna untuk menegakkan diagnosis karema titer H dapat tetap tinggi setelah dilakukan imunisasi atau bila penderita telah lama sembuh. 

F. KOMPLIKASI Menurut Widagdo (2011, hal: 220-221) 
Komplikasi dari demam tifoid dapat digolongkan dalam intra dan ekstra intestinal. 
1. Komplikasi intestinal diantaranya ialah : 
  • Perdarahan  
Dapat terjadi pada 1-10 % kasus, terjadi setelah minggu pertama dengan ditandai antara lain oleh suhu yang turun disertai dengan peningkatan denyut nadi. 
  • Perforasi usus 
Terjadi pada 0,5-3 % kasus, setelah minggu pertama didahului oleh perdarahan berukuran sampai beberapa cm di bagian distal ileum ditandai dengan nyeri abdomen yang kuat, muntah, dan gejala peritonitis. 

2. Komplikasi ekstraintestinal diantaranya ialah : 
  • Sepsis 
Ditemukan adanya kuman usus yang bersifat aerobik  
  • Hepatitis dan kholesistitis 
Ditandai dengan gangguan uji fungsi hati, pada pemeriksaan amilase serum menunjukkan peningkatan sebagai petunjuk adanya komplikasi pankreatitis 
  • Pneumonia atau bronkhitis 
Sering ditemukan yaitu kira-kira sebanyak 10 %, umumnya disebabkan karena adanya superinfeksi selain oleh salmonella 
  • Miokarditis toksik 
Ditandai oleh adanya aritmia, blok sinoatrial, dan perubahan segmen ST dan gelombang T, pada miokard dijumpai infiltrasi lemak dan nekrosis 
  • Trombosis dan flebitis 
Jarang terjadi, komplikasi neurologis jarang menimbulkan gejala residual yaitu termasuk tekanan intrakranial meningkat, trombosis serebrum, ataksia serebelum akut, tuna wicara, tuna rungu, mielitis tranversal, dan psikosis 
  • Komplikasi lain 
Pernah dilaporkan ialah nekrosis sumsum tulang, nefritis, sindrom nefrotik, meningitis, parotitis, orkitis, limfadenitis, osteomilitis, dan artritis. 

G. PENATALAKSANAAN    
Menurut Ngastiyah (2005, hal: 239) & Ranuh (2013, hal: 184-185) pasien yang dirawat dengan diagnosis observasi tifus abdominalis harus  dianggap dan diperlakukan langsung sebagai pasien tifus abdominalis dan diberikan pengobatan sebagai berikut : 
1. Isolasi pasien, desinfeksi pakaian dan ekskreta  
2. Perawatan yang baik untuk menghindari komplikasi, mengingat sakit yang lama, lemah, anoreksia, dan lain-lain 
3. Istirahat selama demam sampai dengan 2 minggu setelah suhu normal kembali (istirahat total), kemudian boleh duduk, jika tidak panas lagi boleh berdiri kemudian berjalan di ruangan 
4. Diet Makanan harus mengandung cukup cairan, kalori dan tinggi protein. Bahan makanan tidak boleh mengandung banyak serat, tidak merangsang dan tidak menimbulkan gas. Susu 2 gelas sehari. Apabila kesadaran pasien menurun diberikan makanan cair, melalui sonde lambung. Jika kesadaran dan nafsu makan anak baik dapat juga diberikan makanan lunak. 
5. Pemberian antibiotik Dengan tujuan menghentikan dan mencegah penyebaran bakteri. Obat antibiotik yang sering digunakan adalah : 

  • Chloramphenicol dengan dosis 50 mg/kg/24 jam per oral atau dengan dosis 75 mg/kg/24 jam melalui IV dibagi dalam 4 dosis. Chloramphenicol dapat menyembuhkan lebih cepat tetapi relapse terjadi lebih cepat pula dan obat tersebut dapat memberikan efek samping yang serius 
  • Ampicillin dengan dosis 200 mg/kg/24 jam melalui IV dibagi dalam 6 dosis. Kemampuan obat ini menurunkan demam lebih rendah dibandingkan dengan chloramphenicol 
  • Amoxicillin dengan dosis 100 mg/kg/24 jam per os dalam 3 dosis 
  • Trimethroprim-sulfamethoxazole masing-masing dengan dosis 50 mg SMX/kg/24 jam per os dalam 2 dosis, merupakan pengobatan klinik yang efisien 
  • Kotrimoksazol dengan dosis 2x2 tablet (satu tablet mengandung 400 mg sulfamethoxazole dan 800 mg trimethroprim. Efektivitas obat ini hampir sama dengan chloramphenicol. 

0 Response to "Laporan Pendahuluan Typhoid Nanda Nic Noc Terbaru"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel