Asuhan Keperawatan Urolithiasis Nanda Nic Noc Terbaru

KATA PENGANTAR 

Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nya, saya dapat menyelesaikan karya ilmiah akhir Ners. Karya ilmiah akhir Ners ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk untuk untuk memperoleh gelar Ners Sarjana Keperawatan. 

Saya menyadari bahwa, tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, dari masa perkuliahan sampai pada penyusunan karya ilmiah akhir Ners ini, sangatlah sulit bagi saya untuk menyelesaikan karya ilmiah akhir Ners ini. Oleh karena itu, saya mengucapkan terima kasih kepada: 

1) Ibu  Prof. Dr. Budi Anna Keliat, SKp., M. App.Sc selaku Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia; 
2) Ibu Kuntarti, S.Kp.., M. Biomed, selaku Ketua Program Studi Sarjana Ilmu Keperawatan; 
3) Bapak Masfuri, Skp, MN selaku dosen pembimbing yang telah menyediakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk memberikan arahan dan masukan berharga dalam penyusunan karya ilmiah akhir Ners ini; 
4) Ibu Hening Pujasari S.Kp., M.Biomed., MANP selaku pembimbing akademik; 
5) Orangtua, adik-adik, orang-orang terkasih serta para sahabat yang telah memberikan dukungan selama profesi dan penyusunan karya ilmiah ini; 
6) Semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan karya ilmiah akhir Ners ini. 

Akhir kata, saya berharap Tuhan Yang Maha Esa berkenan membalas segala kebaikan semua pihak yang telah membantu. Semoga skripsi ini membawa manfaat bagi pengembangan ilmu. 

Depok,5 mei 2018
Penulis  
Asuhan keperawatan ..., Nova Indrawati, FIK UI, 2013

ABSTRAK 

Nama  : Nova Indrawati B. S.Kep 
Program Studi : Ilmu Keperawatan 
Judul : Asuhan Keperawatan  Batu Saluran Kemih  Nanda Nic Noc terbaru

Batu saluran kemih adalah salah satu kasus keperawatan kesehatan masyarakat perkotaan karena prevalensinya di Indonesia yang  terus meningkat. Hal ini berkaitan dengan faktor gaya hidup yang sedikit mengkonsumsi air putih dan tinggi diit protein dan makanan berlemak. 

Penulisan laporan ini bertujuan untuk menganalisis asuhan keperawatan pada Tn I. klien dengan batu saluran kemih di lantai 5 bedah RSPAD Gatot Soebroto. Fokus intervensi yang diberikan adalah edukasi kesehatan mengenai peningkatan hidrasi air putih 2,5 liter perhari dan  perubahan pola diit untuk mencegah kekambuhan berulang. 

Edukasi dilakukan sebelum dan sesudah penatalaksanaan URS Litotripsi. Hasil yang diperoleh adalah klien dan keluarga mengungkapkan peningkatan pengetahuan mengenai batu saluran kemih dan akan memperbaiki gaya hidup yang belum tepat. Kesimpulan dari penulisan karya ilmiah ini adalah upaya edukasi merupakan tindakan mandiri keperawatan untuk mencegah kekambuhan berulang dari batu saluran kemih. 


Kata kunci: Batu saluran kemih, edukasi kesehatan, gaya hidup perkotaan 

DAFTAR ISI 

HALAMAN JUDUL ...........................................................................................  
i HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ............................................... 
ii HALAMAN PENGESAHAN  ........................................................................... 
iii KATA PENGANTAR ......................................................................................... 
iv HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ........................ 
v ABSTRAK ........................................................................................................... 
vi DAFTAR ISI ..................................................................................................... 
viii  DAFTAR TABEL ................................................................................................ x  

BAB 1 PENDAHULUAN ....................................................................................
1 1.1 Latar Belakang ........................................................................................ 
1 1.2 Tujuan Penulisan ..................................................................................... 
5 1.3 Manfaat Penulisan ................................................................................... 5 

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS .......................................................................... 
6 2.1  Batu Saluran Kemih ............................................................................. 
6 2.1.1 Definisi ............ ................................................................. 
6 2.1.2 Etiologi .............................................................................. 
7 2.1.3 Patofisiologi  ...................................................................... 
9 2.1.4 Manifestasi Klinis ............................................................ 
10 2.1.5 Pemeriksaan Penunjang ................................................... 
11 2.1.6 Penatalaksanaan ............................................................... 
13 2.2 Batu Saluran Kemih pada Masyarakat Perkotaan ............................... 
15 2.3 Asuhan Keperawatan Klien dengan Batu Saluran Kemih ................... 
21  2.4 Peran Perawat dalam Perawatan Pasien dengan Batu Saluran Kemih................................................................................................... 25 

BAB 3  LAPORAN KASUS KELOLAAN UTAMA ...................................... 27  
3.1 Pengkajian ........................................................................................... 27  
3.2 Data Fokus Klien dan Analisa Data .................................................... 36  
3.3 Penetapan Diagnosa Keperawatan .......................................................41 
3.4 Rencana Keperawatan ......................................................................... 42 
3.5 Evaluasi Asuhan Keperawatan ............................................................ 45 

BAB 4 ANALISIS SITUASI ............................................................................ 50 
4.1 Profil Lahan Praktik ........................................................................... 50 
4.2 Analisis Masalah Keperawatan pada Batu Saluran Kemih ................ 52  
4.3 Analisis Salah Satu Intervensi dengan Konsep dan Penelitian Terkait.56  
4.4 Alternatif Pemecahan Masalah ........................................................... 57  

BAB 5 PENUTUP .............................................................................................. 59  
5.1 Kesimpulan ...........................................................................................59  
5.2 Saran ..................................................................................................... 59 

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 61 

DAFTAR TABEL 
Tabel 2.1 Keseimbangan Air........................................................................ 18 
Tabel 2.2 Jumlah Air Minum dan Risiko Relatif (RR) Timbul Batu..........  18 
Tabel 2.3 Macam Minuman dan Risiko Terbentuknya Batu Saluran Kemih (%) .............................................. ...............................................  19 
Tabel 3.1 Pemeriksaan Laboratorium Tn. I dengan Batu Saluran Kemih Tahun 2013 ................................................................................  34 
Tabel 3.2 Analisa Data Masalah Keperawatan Tn. I dengan Batu Saluran Kemih ......................................................................................... 38 
Tabel 3.3 Evaluasi Asuhan Keperawatan ................................................... 45 

BAB 1 PENDAHULUAN 
1.1 Latar Belakang 
Kota adalah suatu sistem jaringan kehidupan manusia dengan kepadatan penduduk yang tinggi, strata sosial ekonomi yang heterogen, dan corak kehidupan yang materialistik. Keperawatan kesehatan masyarakat perkotaan mencakup peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan (preventif), pemeliharaan kesehatan dan pengobatan (kuratif) dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif) serta mengembalikan serta memfungsikan kembali baik individu, keluarga dan kelompok masyarakat ke lingkungan sosial dan masyarakat (resosialitatif).  

Dewasa ini, penyakit batu saluran kemih menjadi salah satu kasus yang membutuhkan perhatian perawat dalam pemberian asuhan keperawatan kesehatan masyarakat perkotaan  karena prevalensinya di Indonesia yang terus meningkat (Nurlina, 2008). 

Batu saluran kemih adalah terbentuknya batu yang disebabkan oleh pengendapan substansi yang terdapat dalam air kemih yang jumlahnya berlebihan atau karena faktor lain yang mempengaruhi daya larut substansi (Nurlina, 2008). Batu saluran kemih yang muncul dapat disebabkan oleh faktor instrinsik dan ekstrinsik. Faktor ekstrinsik yang paling mempengaruhi adalah faktor gaya dan pola hidup masyarakat terutama mayarakat kota. 

Pola hidup masyarakat kota cenderung statis dan praktis. Pola hidup dikatakan statis karena masyarakat kota cenderung kurang aktivitas/gerak dan mobilitas dibantu dengan mesin seperti kendaraan bermotor dan eskalator. Pola hidup dikatakan praktis karena masyarakat kota memiliki tuntutan untuk bekerja efisien dalam kehidupan sehari-hari sehingga membutuhkan hal-hal yang praktis, termasuk didalamnya kepraktisan untuk mengakses makanan dan minuman cepat saji (fastfood). 

Pada orang yang dalam pekerjaannya kurang gerakan fisik, kurang olahraga, dan menderita stres lama sering mengalami batu saluran kemih (Muslim, 2007). Faktor pola minum yang memicu timbulnya batu saluran kemih antara lain kurang meminum air putih, banyak mengkonsumsi jus tomat, anggur, apel, vitamin C dan soft drink, sementara banyak mengkonsumsi teh, kopi, susu dan jus jeruk mengurangi kemungkinan terbentuknya batu saluan kemih. 

Makanan yang mempengaruhi kemungkinan terbentuknya batu saluran kemih antara lain terlau banyak protein hewan, lemak, kurang sayur, kurang buah, dan tingginya konsumsi fastfood/junkfood. Mengkonsumsi suplemen makanan dan obat-obatan tertentu juga dapat memicu terbentuknya batu saluran kemih. Sering menahan  BAK dan kegemukan juga dapat menaikkan kemungkinan terkena batu saluran kemih (Muslim, 2007). Gaya hidup masyarakat kota seperti disebutkan dalam paragraf ini mempengaruhi terbentuknya batu saluran kemih. 

Indonesia terletak pada kelompok negara di dunia yang dilewati oleh sabuk batu atau stone belt (Portalkalbe dalam Nurlina, 2008). Di Indonesia penyakit batu saluran kemih masih menempati porsi terbesar dari jumlah pasien di klinik urologi (Nurlina, 2008). Insidensi dan prevalensi yang pasti dari penyakit ini di Indonesia belum dapat ditetapkan secara pasti. Sampai saat ini angka kejadian batu saluran kemih yang sesungguhnya belum diketahui, diperkirakan 170.000 kasus per tahun (Muslim, 2007). 

Dari data dalam negeri yang pernah dipublikasi didapatkan peningkatan jumlah penderita batu ginjal yang mendapat tindakan di RSUPN-Cipto Mangunkusumo dari tahun ke tahun mulai 182 pasien pada tahun 1997 menjadi 847 pasien pada tahun 2002 (Raharjo, 2002). Laki-laki lebih sering dibandingkan wanita (kira-kira 3:1) dengan puncak insidensi antara dekade keempat dan kelima, hal ini kurang lebih sesuai dengan yang ditemukan di RSUPN-CM (Raharjo, 2004).  

Peningkatan jumlah penderita batu saluran kemih berhubungan langsung dengan faktor-faktor pembentuk batu itu sendiri. Faktor instrinsik seperti genetik, penyakit,  jenis kelamin, ras, dan usia memegang peranan sekitar 25%, sedangkan sebesar 75  lebih dipengaruhi oleh faktor ekstrinsik seperti iklim tempat tinggal, geografis, dan gaya hidup (Muslim, 2007). 

Gaya hidup yang menjadi penyebab pembentukan batu adalah pekerjaan, diet, aktivitas/olahraga, pola makan dan minum, serta kebiasaan menahan buang air kecil. Gaya hidup ini merupakan salah satu faktor yang bersifat modifiable. Batu saluran kemih lebih banyak dialami oleh masyarakat Indonesia yang tinggal di lingkungan perkotaan karena memiliki gaya hidup yang cenderung statis. 

Batu saluran kemih dapat menimbulkan keadaan darurat bila batu turun dalam sistem kolektivus dan dapat menyebabkan kelainan sebagai kolektivus ginjal atau infeksi dalam sumbatan saluran kemih. Kelainan tersebut menyebabkan nyeri karena dilatasi sistem sumbatan dengan peregangan reseptor sakit dan iritasi lokal dinding ureter atau dinding pelvis ginjal yang disertai edema dan penglepasan mediator sakit. 

Sekitar 60-70% batu yang turun spontan sering disertai dengan serangan kolik ulangan. Salah satu komplikasi batu saluran kemih yaitu terjadinya gangguan fungsi ginjal, gagal ginjal, dan kematian. Untuk itu terdapat penatalaksanaan untuk menangani kasus-kasus batu saluran kemih.  

Terapi dan penatalaksanaan batu saluran kemih yang biasa digunakan adalah terapi medikamentosa, pengenceran kemih, tindakan ESWL (Extracorporeal Shock Wave Litotripsy), URS (Ureterorenoscopic Litotripsy), PCNL (Percutaneous Litotripsy), dan operasi terbuka (Muslim, 2007). Setiap tindakan yang dilakukan memerlukan penanganan medis dan keperawatan sehingga pasien dengan batu saluran kemih perlu mengalami hospitalisasi. 

Penananganan pembedahan selama di rumah sakit menjadi salah satu fokus dan perhatian perawat. Fillingham dan Douglass (2000) menyebutkan bahwa resiko perdarahan (hematuria), resiko infeksi, nyeri, perubahan jumlah urin, dan perforasi ureter adalah hal yang muncul dan memerlukan perhatian khusus. Selama perawatan, pasien dengan batu saluran kemih terutama pasca pembedahan memiliki banyak resiko sehingga perawat perlu melakukan pemantauan khusus terutama hidrasi dan perdarahan sampai kondisi pasien stabil.  

Dalam proses penyembuhan pasien, perawat juga memerlukan tindakan mandiri keperawatan untuk mencegah kekambuhan berulang dengan melakukan edukasi keperawatan termasuk didalamnya discharge planning. Hal ini menjadi sangat penting mengingat tingginya angka kekambuhan pasca pengobatan batu saluran kemih. 

Berbagai penelitian melaporkan bahwa kekambuhan di tahun pertama berkisar 15-27%, 4-5 tahun selanjutnya 4067,5%, dan 10 tahun lebih sekitar 70-100%. Edukasi yang tepat adalah mengenai perubahan gaya hidup yang mampu mengurangi faktor resiko batu saluran kemih di kemudian hari. Sebagai contoh perawat dapat melakukan tindakan pengenceran kemih dengan memotivasi banyak minum air putih dan melakukan edukasi mengenai pentinganya pengenceran kemih.   

Dehidrasi kronik akan meningkatkan gravitasi air kemih dan saturasi, sehingga terjadi penurunan pH air kemih yang berisiko terhadap terjadinya batu saluran kemih. Pasien-pasien yang mengalami batu saluran kemih dan telah melalui pembedahan juga memiliki resiko kekambuhan berulang ketika faktor hidrasi tidak mendapat perhatian khusus. 

Dehidrasi kronik menaikkan gravitasi air kemih dan saturasi asam urat sehingga terjadi penurunan pH air kemih. Pengenceran air kemih dengan banyak minum air putih menyebabkan peningkatan koefisien ion aktif setara dengan proses kristalisasi air kemih. Banyaknya air yang diminum akan mengurangi rata-rata umur kristal pembentuk batu saluran kemih dan mengeluarkan komponen tersebut dalam air kemih (Nurlina, 2008). 

Fokus dan perhatian perawat terhadap upaya-upaya untuk melakukan edukasi dan perubahan gaya hidup pasien dengan batu saluran kemih  merupakan salah satu tindakan mandiri perawat untuk membantu perawatan pasien-pasien dengan penyakit batu saluran kemih. Dalam tulisan ini akan dibahas mengenai kasus batu saluran kemih dan gaya hidup yang mempengaruhinya melalui setting keperawatan kesehatan masyarakat perkotaan. 

1.2 Tujuan Penulisan 
1.2.1 Tujuan Umum 
Menganalisis asuhan keperawatan masyarakat perkotaan pada klien dengan batu saluran kemih di lantai 5 bedah RSPAD Gatot Soebroto. 

1.2.2 Tujuan Khusus 
1. Menganalisis masalah kesehatan perkotaan pada agregat dewasa dengan penyakit batu saluran kemih 
2. Menganalisi kasus kelolaan pasien dengan batu saluran kemih 
3. Menganalisis aplikasi asuhan keperawatan pasien dengan batu saluran kemih 

1.3 Manfaat Penulisan 
1.3.1 Bagi Pelayanan Keperawatan Hasil penulisan ini diharapkan dapat meningkatkan pelayanan kepada pasien, khususnya peran perawat sebagai edukator dalam mengubah perilaku dan gaya hidup serta mencegahan kekambuhan ulang pasien dengan batu saluran kemih.  
1.3.2 Bagi Pendidikan Hasil penulisan ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran dan mengembangkan ilmu yang berkaitan dengan upaya edukasi untuk mengubah faktor gaya hidup pada pasien dengan batu saluran kemih. 

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS 

2.1 Batu Saluran Kemih 
2.1.1 Definisi 
Ureter adalah suatu saluran muskuler berbentuk silinder yang menghantarkan urin dari ginjal menuju kandung kemih. Panjang ureter adalah sekitar 20-30 cm dengan diameter maksimum sekitar 1,7 cm di dekat kandung kemih dan berjalan dari hilus ginjal menuju kandung kemih (Fillingham dan Douglass, 2000). Ureter dibagi menjadi pars abdominalis, pelvis,dan intravesikalis (Brunner dan Suddarth, 2003). 

Batu saluran kemih (kalkulus uriner) adalah massa keras seperti batu yang terbentuk di sepanjang saluran kemih dan bisa menyebabkan nyeri, perdarahan, penyumbatan aliran kemih atau infeksi (Sja’bani, 2006). Batu ini bisa terbentuk di dalam ginjal (batu ginjal) maupun di dalam kandung kemih (batu kandung kemih). Proses pembentukan batu ini disebut urolitiasis. 

Batu saluran kemih (urolithiasis), sudah dikenal sejak zaman Babilonia dan Mesir kuno dengan diketemukannya batu pada kandung kemih mummi (Muslim, 2007). Batu saluran kemih dapat diketemukan sepanjang saluran kemih mulai dari sistem kaliks ginjal, pielum, ureter, buli-buli dan ureter. 

Batu ini mungkin terbentuk di di ginjal kemudian turun ke saluran kemih bagian bawah atau memang terbentuk di saluran kemih bagian bawah karena adanya stasis urine seperti pada batu buli-buli karena hiperplasia prostat atau batu uretra yang terbentu di dalam divertikel uretra. Batu ginjal adalah batu yang terbentuk di tubuli ginjal kemudian berada di kaliks, infundibulum, pelvis ginjal dan bahkan bisa mengisi pelvis serta seluruh kaliks ginjal dan merupakan batu saluran kemih yang paling sering terjadi (Brunner dan Suddarth, 2003). 

Asuhan keperawatan batu saluran kemih nanda nic noc..., Nova Indrawati, FIK UI, 2013

2.1.2.Etiologi 
Penyebab terbentuknya batu saluran kemih bisa terjadi karena air kemih jenuh dengan garam-garam yang dapat membentuk batu atau karena air kemih kekurangan penghambat pembentuka batu yang normal (Sja’bani, 2006). Sekitar 80% batu terdiri dari kalsium, sisanya mengandung berbagai bahan, termasuk asam urat, sistin dan mineral struvit (Sja’bani, 2006). 

Batu struvit (campuran dari magnesium, amonium dan fosfat) juga disebut batu infeksi karena batu ini hanya terbentuk di dalam air kemih yang terinfeksi (Muslim, 2007). Ukuran batu bervariasi, mulai dari yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang sampai yang sebesar 2,5 sentimeter atau lebih. Batuyang besar disebut kalkulus staghorn. Batu ini bisa mengisi hampir keseluruhan pelvis renalis dan kalises renalis:
1. Faktor Endogen 
Brunner dan Sudarth (2003) dan Nurlina (2008) menyebutkan beberapa faktor yang mempengaruhi pembentukan batu saluran kemih, yaitu: 
Faktor genetik, familial, pada hypersistinuria, hiperkalsiuria dan hiperoksalouria. 

2. Faktor Eksogen 
Faktor lingkungan, pekerjaan, makanan, infeksi dan kejenuhan mineral dalam air minum.  Muslim (2007) menyebutkan beberapa hal yang mempengaruhi pembentukan saluran kemih antara lain: 
a. Infeksi Infeksi Saluran Kencing (ISK) dapat menyebabkan nekrosis jaringan ginjal dan akan menjadi inti pembentuk batu saluran kemih. Infeksi bakteri akan memecah ureum dan membentuk amonium yang akan mengubah pH Urine menjadi alkali. 
Asuhan keperawatan Urolithiasis Nanda Nic Noc, FIK UI, 2013
b. Stasis dan Obstruksi Urine Adanya obstruksi dan stasis urine pada sistem perkemihan akan mempermudah Infeksi Saluran Kencing (ISK). 
c. Jenis Kelamin Lebih banyak terjadi pada laki-laki dibanding wanita dengan perbandingan 3:1 
d. Ras Batu saluran kemih lebih banyak ditemukan di Afrika dan Asia. 
e. Keturunan Orang dengan anggota keluarga yang memiliki penyakit batu saluran kemih memiliki resiko untuk menderita batu saluran kemih dibanding dengan yang tidak memiliki anggota keluarga dengan batu saluran kemih. 
f. Air Minum Faktor utama pemenuhan urine adalah hidrasi adekuat yang didapat dari minum air. Memperbanyak diuresis dengan cara banyak minum air akan mengurangi kemungkinan terbentuknya batu, sedangkan kurang minum menyebabkan kadar semua substansi dalam urine meningkat. 
g. Pekerjaan Pekerja keras yang banyak bergerak mengurangi kemungkinan terbentuknya batu dari pada pekerja yang lebih banyak duduk. 
h. Suhu Tempat yang bersuhu panas menyebabkan banyak mengeluarkan panas sehingga pengeluaran cairan menjadi meningkat, apabila tidak didukung oleh hidrasi yang adekuat akan meningkatkan resiko batu saluran kemih. 
i. Makanan Masyarakat yang banyak mengkonsumsi protein hewani, kalsium, natrium klorida, vitamin C, makanan tinggi garam akan meningkatkan resiko pembentukan batu karena mempengaruhi saturasi urine.  

2.1.3  Patofisiologi 
a. Teori Intimatriks Sja’bani (2006) 
meyebutkan terbentuknya batu saluran kencing memerlukan adanya substansi organik sebagai inti. Substansi ini terdiri dari mukopolisakarida dan mukoprotein A yang mempermudah kristalisasi dan agregasi substansi pembentukan batu. 

b. Teori Supersaturasi Sja’bani (2006) 
menyebutkan erjadi kejenuhan substansi pembentuk batu dalam urine seperti sistin, santin, asam urat, kalsium oksalat akan mempermudah terbentuknya batu. 

c. Teori Presipitasi-Kristalisasi Sja’bani (2006) 
menyebutkan perubahan pH urine akan mempengaruhi solubilitas substansi dalam urine. Urine yang bersifat asam akan mengendap sistin, santin dan garam urat, urine alkali akan mengendap garam-garam fosfat. 

d. Teori Berkurangnya Faktor Penghambat (Muslim, 2007)
Berkurangnya faktor penghambat seperti peptid fosfat, pirofosfat, polifosfat, sitrat magnesium, asam mukopolisakarida akan mempermudah terbentuknya batu saluran kemih. 

2.1.4 Manifestasi Klinis  
Batu, terutama yang kecil, bisa tidak menimbulkan gejala. Batu di dalam kandung kemih bisa menyebabkan nyeri di perut bagian bawah. Batu yang menyumbat ureter, pelvis renalis maupun tubulus renalis bisa menyebabkan nyeri punggung atau kolik renalis (nyeri kolik yang hebat). Kolik renalis ditandai dengan nyeri hebat yang hilang-timbul, biasanya di daerah antara tulang rusuk dan tulang pinggang, yang menjalar ke perut, daerah kemaluan dan paha sebelah dalam (Brunner dan Suddarth, 2003). 

Gejala lainnya adalah mual dan muntah, perut menggelembung, demam, menggigil dan darah di dalam air kemih. Penderita mungkin menjadi sering berkemih, terutama ketika batu melewati ureter. Batu bisa menyebabkan infeksi saluran kemih. Jika batu menyumbat aliran kemih, bakteri akan terperangkap di dalam air kemih yang terkumpul diatas penyumbatan, sehingga terjadilah infeksi. Jika penyumbatan ini berlangsung lama, air kemih akan mengalir balik ke saluran di dalam ginjal, menyebabkan penekanan yang akan menggelembungkan ginjal (hidronefrosis) pada akhirnya bisa terjadi kerusakan ginjal. 

Batu yang terjebak dikandung kemih menyebabkan gelombang nyeri luar biasa, akut dan kolik yang menyebar kepala obdomen dan genitalia. Klien sering merasa ingin kemih, namun hanya sedikit urin yang keluar, dan biasanya mengandung darah akibat aksi abrasi batu gejala ini disebabkan kolik ureter. Pada laki-laki nyeri khas terasa menyebar di sekitar testis, sedangkan pada wanita nyeri terasa menyebar di bawah kandung kemih (Ganong (1992) dan Brunner dan Sudarth (2003)). Umumnya klien akan mengeluarkan batu yang berdiameter 0,5 sampai dengan 1 cm secara spontan. Batu yang berdiameter lebih dari 1 cm biasanya harus diangkat atau dihancurkan sehingga dapat dikeluarkan secara spontan dan saluran urin membaik dan lancar. ( Brunner and Suddarth. 2001). 

Menurut Fillingham dan Douglass (2000), ketika batu menghambat dari saluran urin, terjadi obstruksi, meningkatkan tekanan hidrostatik. Bila nyeri mendadak terjadi akut disertai nyeri tekan disaluran osteovertebral dan muncul mual muntah maka klien sedang mengalami episode kolik renal. Diare, demam dan perasaan tidak nyaman di abdominal dapat terjadi. Gejala gastrointestinal ini akibat refleks dan proxsimitas anatomik ginjal kelambung, pangkereas dan usus besar.  

2.1.5. Pemeriksaan Penunjang 
Adapun pemeriksaan penunjang yang dilakukan pada klien batu saluran  kemih adalah (American Urological Association, 2005) : 
1. Urinalisa 
Warna kuning, coklat atau gelap. : warna : normal kekuning-kuningan, abnormal merah menunjukkan hematuri (kemungkinan obstruksi urine, kalkulus renalis, tumor,kegagalan ginjal). pH : normal 4,6 – 6,8 (rata-rata 6,0), asam (meningkatkan sistin dan batu asam urat), alkali (meningkatkan magnesium, fosfat amonium, atau batu kalsium fosfat), Urine 24 jam : Kreatinin, asam urat, kalsium, fosfat, oksalat, atau sistin mungkin meningkat), kultur urine menunjukkan Infeksi Saluran Kencing , BUN hasil normal 5 – 20 mg/dl tujuan untuk memperlihatkan kemampuan ginjal untuk mengekskresi sisa yang bemitrogen. 

BUN menjelaskan secara kasar perkiraan Glomerular Filtration Rate. BUN dapat dipengaruhi oleh diet tinggi protein, darah dalam saluran pencernaan status katabolik (cedera, infeksi). Kreatinin serum hasil normal laki-laki 0,85 sampai 15mg/dl perempuan 0,70 sampai 1,25 mg/dl tujuannya untuk memperlihatkan kemampuan ginjal untuk mengekskresi sisa yang bemitrogen. Abnormal (tinggi pada serum/rendah pada urine) sekunder terhadap tingginya batu obstruktif pada ginjal menyebabkan iskemia/nekrosis. 

2. Laboratorium 
a. Darah lengkap : Hb, Ht, abnormal bila pasien dehidrasi berat atau polisitemia. 
b. Hormon Paratyroid mungkin meningkat bila ada gagal ginjal (PTH merangsang reabsorbsi kalsium dari tulang, meningkatkan sirkulasi serum dan kalsium urine. 

3. Foto KUB (Kidney Ureter Bladder) 
Menunjukkan ukuran ginjal, ureter dan bladder serta menunjukan adanya batu di sekitar saluran kemih. 

4. Endoskopi ginjal 
Menentukan pelvis ginjal, dan untuk mengeluarkan batu yang kecil. 

5. USG Ginjal 
Untuk menentukan perubahan obstruksi dan lokasi batu. 

6. EKG (Elektrokardiografi) 
Menunjukan ketidak seimbangan cairan, asam basa dan elektrolit. 

7. Foto Rontgen 
Menunjukan adanya batu didalam kandung kemih yang abnormal, menunjukkan adanya calculi atau perubahan anatomik pada area ginjal dan sepanjang ureter. 

8. IVP (Intra Venous Pyelografi ) 
Menunjukan perlambatan pengosongan kandung kemih, membedakan derajat      obstruksi kandung kemih divertikuli kandung kemih dan penebalan abnormal otot kandung kemih dan memberikan konfirmasi cepat urolithiasis seperti penyebab nyeri abdominal atau panggul. Menunjukkan abnormalitas pada struktur anatomik (distensi ureter). 

9. Pielogram retrograd 
Menunjukan abnormalitas pelvis saluran ureter dan kandung kemih. Diagnosis ditegakan dengan studi ginjal, ureter, kandung kemih, urografi intravena atau pielografi retrograde. Uji kimia darah dengan urine dalam 24 jam untuk mengukur kalsium, asam urat, kreatinin, natrium, dan volume total merupakan upaya dari diagnostik. 

Riwayat diet dan medikasi serta adanya riwayat batu ginjal, ureter, dan kandung kemih dalam keluarga di dapatkan untuk mengidentifikasi faktor yang mencetuskan terbentuknya batu kandung kemih pada klien.
Asuhan keperawatan urolitiasis nanda nic noc, Nova Indrawati, FIK UI, 2013

2.1.6 Penatalaksanaan Urolithiasis
Tujuan dasar penatalaksanaan adalah untuk menghilangkan batu, menentukan jenis batu, mencegah kerusakan nefron, mengidentifikasi infeksi, serta mengurangi obstruksi akibat batu (Sja’bani, 2006). Cara yang biasanya digunakan untuk mengatasi batu kandung kemih adalah terapi konservatif, medikamentosa, pemecahan batu, dan operasi terbuka. 

a. Terapi konservatif 
Sebagian besar batu ureter mempunyai diameter kurang dari 5 mm. Batu ureter yang besarnya kurang dari 5 mm bisa keluar spontan (Fillingham dan Douglass, 2000). Untuk mengeluarkan batu kecil tersebut terdapat pilihan terapi konservatif berupa (American Urological Association, 2005): 
1. Minum sehingga diuresis 2 liter/ hari
2. α - blocker 
3. NSAID  
Batas lama terapi konservatif adalah 6 minggu. Di samping ukuran batu syarat lain untuk terapi konservatif adalah berat ringannya keluhan pasien, ada tidaknya infeksi dan obstruksi. Adanya kolik berulang atau ISK menyebabkan konservatif bukan merupakan pilihan. Begitu juga dengan adanya obstruksi, apalagi pada pasien-pasien tertentu (misalnya ginjal tunggal, ginjal trasplan dan penurunan fungsi ginjal ) tidak ada toleransi terhadap obstruksi. Pasien seperti ini harus segera dilakukan intervensi (American Urological Association, 2005).  

b. Extracorporal Shock Wave Lithotripsy ( ESWL ) 
ESWL banyak digunakan dalam penanganan batu saluran kemih. Badlani (2002) menyebutkan prinsip dari ESWL adalah memecah batu saluran kemih dengan menggunakan gelombang kejut yang dihasilkan oleh mesin dari luar tubuh. 

Gelombang kejut yang dihasilkan oleh mesin di luar tubuh dapat difokuskan ke arah batu dengan berbagai cara. Sesampainya di batu, gelombang kejut tadi akan melepas energinya. Diperlukan beberapa ribu kali gelombang kejut untuk memecah batu hingga menjadi pecahan-pecahan kecil, selanjutnya keluar bersama kencing tanpa menimbulkan sakit. 
Asuhan keperawatan ..., Nova Indrawati, FIK UI, 2013

Al-Ansari (2005) menyebutkan komplikasi ESWL untuk terapi batu ureter hampir tidak ada. Keterbatasan ESWL antara lain sulit memecah batu keras (misalnya kalsium oksalat monohidrat), perlu beberapa kali tindakan, dan sulit pada orang bertubuh gemuk. Penggunaan ESWL untuk terapi batu ureter distal pada wanita dan anak-anak juga harus dipertimbangkan dengan serius karena  ada kemungkinan terjadi kerusakan pada ovarium.  

c. Ureterorenoskopic (URS) 
Pengembangan ureteroskopi sejak tahun 1980 an telah mengubah secara dramatis terapi batu ureter. Kombinasi ureteroskopi dengan pemecah batu ultrasound, EHL, laser dan pneumatik telah sukses dalam memecah batu ureter. Keterbatasan URS adalah tidak bisa untuk ekstraksi langsung batu ureter yang besar, sehingga diperlukan alat pemecah batu seperti yang disebutkan di atas. Pilihan untuk menggunakan jenis pemecah batu tertentu, tergantung pada pengalaman masing-masing operator dan ketersediaan alat tersebut. 

d. Percutaneous Nefro Litotripsy (PCNL) 
PCNL yang berkembang sejak dekade 1980 secara teoritis dapat digunakan sebagai terapi semua batu ureter. Namun, URS dan ESWL menjadi pilihan pertama sebelum melakukan PCNL. Meskipun demikian untuk batu ureter proksimal yang besar dan melekat memiliki peluang untuk dipecahkan dengan PCNL (Al-Kohlany, 2005). 

Menurut Al-Kohlany (2005), prinsip dari PCNL adalah membuat akses ke kalik atau pielum secara perkutan. Kemudian melalui akses tersebut dimasukkan nefroskop rigid atau fleksibel, atau ureteroskop, untuk selanjutnya batu ureter diambil secara utuh atau dipecah.  Keuntungan dari PCNL adalah apabila letak batu jelas terlihat, batu pasti dapat diambil atau dihancurkan dan fragmen dapat diambil semua karena ureter bisa dilihat dengan jelas. Proses PCNL berlangsung cepat dan dapat diketahui keberhasilannya dengan segera. Kelemahan PCNL adalah PCNL perlu keterampilan khusus bagi ahli urologi.  

e. Operasi Terbuka 
Fillingham dan Douglass (2000) menyebutkan bahwa beberapa variasi operasi terbuka untuk batu ureter mungkin masih dilakukan. Hal tersebut tergantung pada anatomi dan posisi batu, ureterolitotomi bisa dilakukan lewat insisi pada flank, dorsal atau anterior. Saat ini operasi terbuka pada batu ureter kurang lebih tinggal 1 -2 persen saja, terutama pada penderita-penderita dengan kelainan anatomi atau ukuran batu ureter yang besar. 

2.2 Batu Saluran Kemih pada Masyarakat Perkotaan 

Kota adalah suatu sistem jaringan kehidupan manusia dengan kepadatan penduduk yang tinggi, strata sosial ekonomi yang heterogen, dan corak kehidupan yang materialistik Dalam suatu kota diisi oleh suatu golongan spesialis non agraris dan yang berpendidikan, yang bertujuan untuk memperbaiki hidup mereka (Prof. Drs. R. Bintarto). 

Keperawatan kesehatan masyrakat khususnya perkotaan mencakup peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan (preventif), pemeliharaan kesehatan dan pengobatan (kuratif) dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif) serta mengembalikan serta memfungsikan kembali baik individu, keluarga  dan kelompok masyarakat ke lingkungan sosial dan masyarakat (resosialitatif). Perkembangan era globalisasi yang meningkat dengan didukungnya teknologi serta informasi yang canggih, meningkatkan kebutuhan hidup dan merubah gaya hidup masyarakat perkotaan.  

Asuhan keperawatan ..., Nova Indrawati, FIK UI, 2013
Nurlina (2008) dalam penelitiannya yang berjudul “Faktor-faktor resiko kejadian batu saluran kemih” mengatakan bahwa faktor gaya hidup sangat mempengaruhi resiko batu saluran kemih. Nurlina mengadakan penelitian untuk membuktikan bahwa faktor resiko batu saluran kemih lebih banyak didapat dari faktor ekstrinsik (eksogen). 

Dalam penelitian tersebut, sampel yang digunakan berjumlah 44 kasus dan 44 kontrol. Hasil dari penelitian berupa data bahwa faktor-faktor risiko kejadian batu saluran kemih yang terbukti signifikan adalah kurang minum, kebiasaanmenahan buang air kemih, diet tinggi protein, duduk lama saat bekerja.  

Kesimpulan dari penelitian adalah orang yang duduk lama saat bekerja, dengan kebiasaan menahan buang air kemih, kurang minum dan diet tinggi protein memiliki probabilitas untuk mengalami kejadian batu saluran kemih sebesar 97,05%. Dalam penelitian tersebut, Nurlina menyarankan adanya sebuah tindakan untuk memotivasi pasien minum 2-2,5 liter (±8-10 gelas) sehari dan penting untuk minum 250 ml air sebelum tidur, tidak membiasakan menahan Buang Air Kemih (BAK), tidak berlebihan mengkonsumsi protein hewani,  dan tidak duduk terus menerus selama bekerja tetapi diselingi berdiri dan berjalan. 

Pekerjaan, aktivitas, dan kebiasaan menahan kemih mempengaruhi pembentukan batu saluran kemih. Faktor pekerjaan yang monoton dan stagnan juga menjadi faktor resiko yang sangat erat mempengaruhi munculnya masalah-masalah kesehatan termasuk masalah batu saluran kemih. 

Pada penelitian diketahui orangorang yang lebih banyak duduk dalam pekerjaannya dan kurang banyak bergerak lebih sering terkena batu saluran kemih dibandingkan orang yang pekerjaannya banyak gerak atau kerja fisik (Muslim, 2007). Pada penelitian lain ditemukan penderita batu saluran kemih lebih banyak dialami oleh pegawai kantor dan manajer dibandingkan pekerja kasar (Menon, 2002 dan Trichieri, 2003). 

Kebiasaan menahan kemih akan meningkatkan stasis urine yang menimbulkan infeksi saluran kemih. Pada infeksi saluran kemih bakteri pemecah urea (urea splitting bacteria) sangat mudah menghasilkan jenis batu struvit. Selain itu, dengan adanya stasis urine maka dapat terjadi pengendapan kristal di saluran kemih (Menon, 2002 ). 

Asuhan keperawatan batu saluran kemih nanda nic noc..., Nova Indrawati, FIK UI, 2013
Stres, olahraga, dan kegemukan dapat menjadi faktor resiko yang mempengrauhi pembentukan batu saluran kemih. Penelitian yang dilakukan Najem pada 200 penderita batu saluran kemih dengan 200 orang sebagai kontrol ternyata membuktikan batu saluran kemih lebih banyak dialami oleh orang yang memiliki stress dibandingkan dengan yang tidak. 

Batu saluran kemih lebih banyak dialami oleh orang yang jarang berolahraga dan lebih banyak duduk (Menon, 2002). Pada penelitian batu oksalat idiopatik didaptkan 59,2 % terkena kegemukan. Pada penelitian laian, laki-laki yang mengalami kenaikan berat badan 15,9 kg dibandingkan berat badan usia 21 tahun maka resiko relatif terkena batu saluran kemih yaitu 1,39. 

Pada wanita yang berat badannya mengalami kenaikan 15,9 kg dari berat badan saat berusia 18 tahun maka resiko relatif terkena batu saluran kemih yaitu 1,70. Pada orang yang gemuk, pH air kemih turun, kadar asam urat, oksalat, dan kalsium dalam air kemih naik (Barclay, 2005 dan Siener, 2004). 

Salah satu perubahan gaya hidup yaitu perubahan terhadap pola konsumsi makan dan minum masyarakat kota. Makanan dan minuman berpengaruh besar pada eksresi bahan pembentuk batu dalam air kemih. Makan banyak bahan yang mengandung asam urat, oksalat, kalsium, dan fosfat dapat meningkatkan kadar substansi tersebut dalam air kemih yang berakibat timbulnya batu saluran kemih (Muslim, 2003). Demikian juga dengan minuman, terdapat beberapa jenis minuman yang merangsang terjadinya batu saluran kemih dan ada pula yang mengurangi kemungkinan tersebut. 

Muslim (2007) menyebutkan bahwa air sangat penting dalam proses pembentukan saluran kemih, sebab bila kekurangan air minum terjadi supersaturasi bahan pembentuk batu dalam air kemih yang terjadi akibat adanya kristalisasi. Dianjurkan minum air 2-2,5 liter perhari atau 250 ml air tiap 4 jam, dan 250 ml air tiap kali makan untuk mencegah terjadinya batu saluran kemih. Terdapat ahli yang mengatakan air kemih yang dihasilkan minimal 2 liter per 24 jam ( Resnick, 1990 dan Parivar, 1996). Diusahakan agar keseimbangan air dalam tubuh seperti dalam tabel berikut ini. 
Asuhan Keperawatan Urolithiasis Nanda Nic Noc Terbaru
Jumlah air yang diminum berpengrauh terhadap pembentukan batu saluran kemih yang ditunjukkan dengan risiko relatif (RR) seperti pada penelitian Assimos dalam tabel berikut ini:
Asuhan Keperawatan Urolithiasis Nanda Nic Noc Terbaru
Berbagai jenis minuman juga berpengaruh dalam pembentukan batu saluran kemih. Ada beberapa minuman yang meningkatkan proses pemebentukan batu saluran kemih, namun adapula minuman yang menurunkan resiko pembentukan batu aluan kemih. Berikut data mengenai macam minuman dan resiko terbentuknya batu saluran kemih. 
asuhan keperawatan urolithiasis
Jenis makanan tertentu berpengaruh pada pembentukan saluran kemih. Berikut adalah pengaruh dari setiap komponen makanan. 
a. Protein 
Kebutuhan protein untuk hidup normal per hari 600 mg/kg berat badan, bila berlebihan maka resiko pembentukan batu saluran kemih akan naik. Protein hewan akan menurunkan keasaman (pH) air. Akibatnya reabsorpsi kalsium dalam tubulus berkurang sehingga kadar kalsium air kemih naik. Keasaman (pH) air penting sekali karena batu kalsium oksalat yang merupakan jenis batu terbanyak terbentuk pada pH air kemih 5,2 (Menon, 2002 dan Trinchieri, 2003). Protein yang berasal dari tumbuh-tumbuhan tidak menurunkan pH dan menaikkan kalsium air kemih (Menon, 2002 dan Parivar, 1996). Berdasarkan hal tersebut maka mengkonsumsi protein hewani berlebihan tidak baik karena memudahkan timbul batu saluran kemih. 

b. Lemak 
Konsumsi lemak berlebihan akan menaikkan kadar oksalat air kemih, sehingga memudahkan timbulnya batu kalsium oksalat ginjal. Lemak mengikat kalsium bebas di lumen usus dan mengandung asam arakidonat. Hal ini menyebabkan penyerapan oksalat meningkat sehingga menimbulkan kenaikan kadar oksalat air kemih. Selain itu konsumsi lemak berlebihan dapat menaikkan kadar kolesterol yang juga dapat menimbulkan batu saluran kemih (Rose, 1997). 
 Asuhan keperawatan ..., Nova Indrawati, FIK UI, 2013

c. Sayuran 
Sebagian besar sayuran menyebabkan pH air kemih naik sehingga menguntungkan karena tidak memicu terjadinya batu kalsium oksalat. Sayuran juga mengandung banyak serat yang mengurangi penyerapan kalsium dalam usus sehingga mengurangi kadar kalsium air kemih yang berakibat menurunkan resiko terjadinya batu saluran kemih (Muslim, 2007). 
d. Buah 
Sebagian besar buah merupakan alkali ash food yang penting untuk mencegah timbulnya batu saluran kemih. Banyak jenis buah yang mengandung sitrat terutaman golongan jeruk yang penting sekali untuk mencegah timbulnya batu saluran kemih karena sitrat merupakan inhibitor yang paling kuat. Pada penelitian jeruk nipis lebih banyak kandungan sitratnya dibandingkan dengan jeruk lemon. Oleh karena itu, konsumsi buah akan memperkecil kemungkinan terjadinya batu saluran kemih (Iguchi, 1990). 
e. Makanan suplemen 
Makanan suplemen baik yang berbentuk padat maupun cair dapat berpengaruh pada pembentukan batu saluran kemih. Suplemen yang mengandung vitamin C dosis tinggi bila dikonsumsi jangka lama dapat berbahaya sebab vitamin C akan diubah dalam tubuh menjadi oksalat (Sja’bani, 2006). Kenaikan kadar oksalat berbahaya karena akan meningkatkan batu kalsium oksalat. Suplemen yang mengandung kalsium dosis tinggi yang disebutkan dapat mencegah osteoporosis dapat berbahaya karena menimbulkan batu kalsium jika dikonsumsi di luar waktu makan, dan tidak berbahaya bila dikonsumsi di waktu sebelum atau sesudah makan. 
 Asuhan keperawatan ..., Nova Indrawati, FIK UI, 2013
f. Junk-food 
Istilah junk-food diberikan kepada kelompok makanan ayam goreng, burger, pizza yang menggunakan jenis dan cara masak tertentu. Kelompok makanan ini dipandang dari segi kesehatan bermutu rendah karena mengandung lemak dan protein hewan terlalu banyak dan serat atau sayuran yang terlalu sedikit. Konsumsi berlebihan lemak dan protein hewani serta kurangnya serat/sayuran dapat memicu terjadinya batu saluran kemih (Resnick, 1990). 
g. Ikan laut 
Ikan laut mengandung zat elcosa pentaenoic acid (EPA) yang penting untuk mecegah sekresi kalsium ke adalam air kemih. Pada penelitian lebih lanjut, minyak ikan yang memiliki kandungan EPA tersebut terbukti mengurangi timbulnya batu saluran kemih. 
h. Jamu dan obat herbal 
Jamu dan obat herbal merupakan obat tradisional yang umumnya dipakai berdasarkan pengetahuan empirik. Bentuknya dapat berupa bubuk atau rebusan tanaman dan dosisnya berdasarkan perkiraan. Zat sisa dari bahan jamu dan obat herbal diperkirakan akan beresiko meningkatkan pembentukan batu saluran kemih. Penelitian dan publikasi mengenai hal ini masih jarang sekali. 

2.4 Peran Perawat dalam Perawatan Pasien dengan Batu Saluran Kemih 

Perawat memiliki peran sebagai caregiver dan educator. Edukasi adalah penambahan pengetahuan dan kemampuan seseorang melalui teknik praktik belajar atau instruksi, dengan tujuan untuk mengingat fakta atau kondisi nyata, dengan cara memberi dorongan terhadap pengarahan diri (self direction), aktif memberikan informasi-informasi atau ide baru (Craven dan Hirnle, 1996 dalam Suliha, 2002). Edukasi merupakan serangkaian upaya yang ditujukan untuk mempengaruhi orang lain, mulai dari individu, kelompok,keluarga dan masyarakat agar terlaksa nanya perilaku hidup sehat (Setiawati, 2008).  
Terapi batu saluran kemih yang dapat dilakukan oleh perawat yang merawat pasien dengan batu saluran kemih adalah dengan melakukan edukasi dan persiapan pulang pasien (discharge planning). Edukasi dan persiapan pulang pasien merupakan salah satu tugas perawat dalam setting pencegahan (preventing) dan pemulihan (rehabilitating) serta membantu mempersiapkan pasien untuk kembali ke rumah dengan modal pengetahuan yang baru untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Pada pasien dengan batu saluran kemih, edukasi pasien yang paling penting mengenai dua hal yaitu pengenceran kemih dan perubahan pola makan. 
Terapi terpenting dalam pembentukan batu saluran kemih adalah pengenceran air kemih. Air kemih akan encer apabila dalam waktu 24 jam jumlah air kemih antara 2-2,5 liter. Hal ini dipengaruhi oleh suhu lingkungan dan aktivitas fisik. Untuk mendapatkan jumlah air kemih tersebut, disarankan untuk minum antara 2-3 liter air per hari. Pengenceran kemih dilakukan tanpa mengubah komposisi air kemih sehingga ditekankan untuk memilih minuman dengan pertimbangan jumlah kalorinya sebagai berikut (Nurlina, 2008): 
1. Jumlah yang diminum 2,5-3 liter perhari dengan air kemih 2,5 liter perhari 
2. Air yang diminum haus terdistribusi sepanjang hari, minum 2 cangkit setiap 2 jam dan minum sebelum tidur dan seduah buang air kecil. 
3. Jenis minuman yang sesuai yaitu fruit tea, herba tea, dan air mineral bergaram rendah 
4. Minuman yang kurang sesuai yaitu kopi, teh pahit,  dan jus buah yang pekat 5. Minuman yang tidak sesuai yaitu minuman yang beralcohol, cola, dan lemon . 
Perubahan pola makan dilakukan dengar mengatur pola diet. Diet yang baik dan sesuai dengan penderita saluran kemih adalah diet yang terdiri atas buah segar, sayuran dan selada, lemak nabati, dan susu rendah lemak. Diet yang dibatasi adalah daging, ikan, sosis sebesar 150 gr/hari, sedangkan yang dihindari adalah lemak dan gula serta garam yang terlalu banyak (Muslim, 2007). 

BAB III LAPORAN KASUS KELOLAAN

ASUHAN KEPERAWATAN UROLITHIASIS NANDA NIC NOC

3.1 PENGKAJIAN 
3.1.1 Informasi Umum 
Nama   : Tn. I.M.P. 
Usia   : 31 tahun 
Tanggal Lahir  : 12-06-1982
Jenis Kelamin  : laki-laki  
Suku Bangsa  : Indonesia 
Pekerjaan  : TNI 
Tanggal Masuk : 29-05-2013 
Waktu   : 12.30 WIB 
Dari   : Poli bedah 
Sumber Informasi : klien, keluarga, dan rekam medik 
Diagnosa medis : batu ureter distal dextra 
3. 1.2 Riwayat Penyakit Sekarang 
Klien mengatakan sering merasakan nyeri skala 5 di pinggang sebelah kanan sejak akhir tahun 2011. Saat BAK sering terasa nyeri dan BAK tidak tuntas. Ada keluhan BAK menetes di akhir. Tahun 2012 klien memiliki riwayat BAK berdarah, terasa nyeri skala 5. BAK berdarah hanya terjadi sekali itu saja. Skala nyeri saat pengkajian 4-5 dari 10. 

3.1.3 Riwayat Penyakit Dahulu 
Klien memiliki riwayat Asma sejak masih SD dan memiliki riwayat malaria. Klien pernah dirawat karena malaria pada tahun 2006. Klien mengatakan sebelumnya tidak memiliki riwayat sakit ginjal atau infeksi saluran kemih. Tahun 2012 kemih berdarah sakala nyeri 5 dari qo. Keluarga juga tidak ada yang memiliki riwayat penyakit ginjal atau batu saluran kemih.  

3.1.4 Aktifitas/Istirahat 
• Gejala ( Subyektif ) 
Klien bekerja sebagai TNI dengan pangkat Kapten. Klien mengatakan sedikit bergerak dan akhir-akhir ini lebih sering duduk di meja di dalam ruangan ber-AC. Aktivitas/hobi yang disukai adalah membaca dan menonton tv. Klien mengatakan keterbatasan karena nyeri di pinggang saat melakukan aktivitas. Klien mengatakan tidak menggunakan alat bantu dalam beraktivitas. Lama istirahat klien 6-8 jam/malam dan tidak pernah tidur siang. Klien mengatakan terkadang mengalami insomnia karena nyeri yang dirasakan atau karena rangsangan ingin pipis. Terkadang muncul rasa ingin pipis namun tidak pernah tuntas dan menetes di akhir.“ Setelah dilakukan URS Litotripsi klien juga merasakan sedikit nyeri sakit area genital (testis). 

• Tanda ( Obyektif ) 
Kesadaran klien compus mentis. Respon terhadap aktifitas yang terobservasi : Berhati – hati saat bergerak karena takut luka operasi berdarah/sakit. Hasil pengkajian neuromuskular massa/tonus otot sebanding/ tegap secara bilateral. Postur tubuh klien tegap dan rentang gerak sempurna. Kekuatan otot sama pada keempat ekstremitas: 
5555 : 5555 : 5555 : 5555 

3.1.5 Sirkulasi 
• Gejala ( Subyektif ) 
Klien mengatakan terkadang jantung terasa berdebar. Klien mengatakan tidak memiliki riwayat penyakit gula ataupun hipertensi. Klien mengatakan mulai jarang berolahraga dan  tidak suka minum air putih terlalu banyak. Terdapat perubahan frekuensi berkemih yaitu menjadi lebih sering namun sedikit dan BAK terasa sakit. 

• Tanda ( Obyektif ) 
Pemeriksaan tanda vital klien: TD berbaring 110/70 mmHg, frekuensi nadi radialis 80 x/menit, kuat dan teratur. Hasil auskultasi paru tidak ada ronkhii. Pada ekstremitas teraba hangat. Suhu tubuh 360C. Warna kulit klien sawo matang, tidak pucat, pengisian kapiler: ± 2 detik. Kuku jari bersih dan normal. Penyebaran  rambut merata,  rambut kasar sampai mata kaki, ada bulu pada ibu jari. Warna wajah dan lengan kemerahan sehat, mukosa bibir berwarna pink , punggung kuku melengkung baik, kongjungtiva tidak anemis dan sklera tidak ikterik. 

3.1.6 Integritas Ego 
• Gejala ( Subyektif ) 
Saat ini klien mengatakan tidak merasakan stres yang berarti. Kondisi yang dialami sekarang dilalui dengan banyak berdoa dan berdzikir. Klien tidak memikirkan masalah finansial karena ditanggung oleh dinas. Klien sudah menikah dan beragama Islam. Gaya hidup menengah keatas. Klien mengatakan yang dicemaskan saat ini adalah masalah operasi dan apa saja penyebab batu ginjal yang dialami. 

• Tanda ( Obyektif ) 
Status emosi klien gelisah, kekhawatiran terhadap operasi yang dijalankan muncul, respon psikologis yang terobservasi adalah eskpresi wajah menahan nyeri dan sedikit cemas. Ansietas klien termasuk skala ringan karena masih terorientasi dengan waktu, tempat, dan orang. 

3.1.7 Eliminasi 
• Gejala ( Subyektif ) 
Klien mengatakan buang air besar hampir setiap pagi, tidak ada gangguan. BAB terakhir kemarin pagi, konsistensi lembek warna kuning tua. Tidak ada perdarahan. Klien mengatakan tidak memiliki riwayat hemoroid dan konstipasi. Penggunaan laksatif harian tidak pernah. Pola BAK klien sekitar 4-6 x/hari. Karakter urin: kuning jernih, namun pernah berdarah sekali lalu tidak muncul lagi.  

Sebelum tindakan URS Litotripsi klien mengatakan ada sensari nyeri seperti terbakar saat BAK. BAK menetes di akhir sering tidak tuntas. Sebelumnya tidak memiliki riwayat penyakit kandung kemih atau ginjal. Tidak ada penggunaan diuretik. 

• Tanda ( Obyektif ) 
Saat pemeriksaan abdomen, tidak didaptkan nyeri tekan abdomen. Abdomen lunak dan elastis. Terdapat bising usus aktif (8-9x/menit) di keempat kuadran. Tahun 2012 riwayat hematuria dan sejak saat itu terasa perubahan pola BAK. BAK menjadi lebih sering dan tindak tuntas. Saat berkemih terasa nyeri skala 4-5 dari 10, urin menetes, berwarna kuning keruh. Saat berkemih berdarah skala nyeri 5 dari 10. Setelah URS Litotripsi skala nyeri 5 dari 10. 

3.1.8 Cairan/Makanan 
• Gejala ( Subyektif ) 
Klien mengatakan makanan kesukaan adalah ikan dan nugget. Klien mengatakan gemar meminum teh dan minuman bersoda. Klien makan 3 kali sehari. Saat dirumah sakit pola diit mengikuti aturan rumah sakit. Makan pagi: Roti, buah/bubur sumsum, sayur,daging. Makan siang: nasi, sayur, daging, buah. Makan Malam: nasi, sup, daging, buah. Klien mengatakan selalu nafsu makan, tidak ada mual dan muntah ataupun keluhan nyeri ulu hati. Klien tidak memiliki alergi makanan. Klien tidak memiliki kesulitan mengunyah dan menelan. Gigi masih utuh dan bersih. 

Asuhan keperawatan ..., Nova Indrawati, FIK UI, 2013
• Tanda ( Obyektif ) 
Berat badan klien 68 kg dan tinggi badan 166 cm. IMT 24,67 dalam batas normal. Postur tubuh tegap berisi. Turgor kulit baik dan elastis. Penampilan lidah pink. Membran mukosa pink utuh. Kondisi gigi dan gusi utuh dan baik, tidak ada perdarahan gusi. Bising usus: aktif pada keempat kuadran. 

3.1.9 Higiene 
• Gejala ( Subyektif ) 
Aktivitas sehari-hari klien dilakukan mandiri, saat sakit dan setelah menjalani operasi dibantu oleh istri. 

• Tanda ( Obyektif ) 
Penampilan umum klien bersih, rapi, rambut dicukur pendek, cara berpakaian rapi dan bersih. Tidak ada bau badan. Kondisi kuku dan kepala bersih. Tidak ditemukan kutu. 

3.1.10 Neurosensori 
• Gejala ( Subyektif ) 
Klien mengatakan tidak merasa pusing dan tidak merasa kebas pada ekstremitas.Penglihatan baik, pendengaran baik, indera pembau baik. 

• Tanda ( Obyektif ) 
Tidak ada perdaraha pada hidung, indera bembau tidak bermasalah, status mental sadar, terorientasi terhadap waktu, tempat, orang. Afek bicara jelas dan koheren. Reaksi pupil mata positif, tidak menggunakan kacamata. Tidak menggunakan alat pendengaran. Kekuatan genggaman sama antara kiri dan kanan dan sensitif terhadap sentuhan. 

3.1.11  Nyeri 
• Gejala ( Subyektif ) 
Sebelum URS Litotripsi klien merasakan nyeri pada pinggang kanan dan nyeri saat ingin dan sedang berkemih. Nyeri seperti terbakar, skala 5 dan hilang saat beristirahat. Muncul saat ingin berkemih. Setelah operasi nyeri muncul di alat genitalia (testis), namun bila menarik napas nyeri dapat hilang.  

• Tanda ( Obyektif) 
Sebelum URS Litotripsi: Nyeri di area pinggang dan testis, nyeri menyebar, skala 5 dari 10, nyei hilang saat beritirahat dan muncul saat ingin berkemih. Klien tampak menjaga area yang sakit, berhati-hati saat tidur dan bangun tidur, berhati-hati saat menoleh dan beraktivitas serta ekspresi wajah terlihat kesakitan dan menjaga area yang sakit. Respon emosi masih terkendali dan sabar. 

3.1.12 Pernapasan 
• Gejala ( Subyektif) 
Klien mengatakan tidak ada keluhan batuk, sesak napas, dan riwayat TB ataupun bronkitis dan pneumonia. Tidak ada alat bantu pernapasan. 

• Tanda ( Obyektif) 
Frekuensi pernapasan: 12 x/menit. Kedalaman baik, pengembangan dada simentris, auskultasi tidak ada ronkhii, tidak ada wheezing, tidak ada sianosis, tidak ada jari tabuh. Fungsi mental/kegelisahan: Sadar terorientasi dan tegang, wajah terlihat gelisah. 

3.1.13 Keamanan 
• Gejala ( Subyektif ) 
Klien mengatakan tidak memiliki riwayat alergi. Tidak ada riwayat fraktur dan dislokasi. Tidak ada masalah penglihatan dan pendengaran. 
• Tanda ( Obyektif ) 
Suhu: 36º C. Integritas kulit baik dan tidak ada jaringan parut di ekstremitas kulit. Kekuatan sama pada semua ekstremitas. Tonus otot baik, rentang gerak maksimal. 

3.1.14  Interaksi Sosial 
• Gejala ( Subyektif ) 
Klien sudah menikah kurang lebih 6 tahun, memiliki satu anak. Perilaku koping klien dengan membicarakan masalah pada istri.   
• Tanda ( Obyektif ) 
Bicara jelas dan dapat dimengerti. Komunikasi verbal/non-verbal dengan istri dan keluarga.  

3.1.15  Penyuluhan/Pembelajaran 
• Gejala ( Subyektif ) 
Bahasa yang dominan digunakan yaitu Bahasa Indonesia. Klien melek huruf dengan pendidikan terakhir strata satu. Klien mengatakan tidak tahu apa saja yang bisa dimakan dan minum untuk mencegah batu ginjal. Klien menanyakan teknik dan situasi dari prosedur pembedahan atau operasi yang akan dialami. 

Riwayat keluhan terakhir: 
Sejak akhir tahun 2011 klien mengalami nyeri saat BAK, pinggang dan testis terasa sakit. Akhirnya klien berobat ke RS. Klien berobat jalan dimana diberikan obat untuk menghancurkan batu ginjal, tetapi tidak berhasil. Direncanakan akan dilakukan pengobatan namun peralatan di tempat tinggal klien terbatas sehingga mendatangi RSPAD Gatot Soebroto dan selanjutnya direncanakan operasi. 

3.1.16. Data Penunjang 
Asuhan Keperawatan Urolithiasis Nanda Nic Noc Terbaru
b. Pemeriksaan Thorax Dada 13/05/2013  
Hasil : Cardio dan Pulmo Normal 
c. Pemeriksaan USG Abdomen tanggal 15/05/2013  
Hasil : Ginjal kanan: Besar, bentuk baik, system pelviokalises sedikit melebar, tampak batu di ureter distal dengan ukuran 2 x 10 cm  Kesan  : Hidronefrosis kanan grade  2-3  
d. Pemeriksaan BNO IVP tanggal 29/05/2013 
Kesan: Batu Ureter Distal Dextra pro URS Litotripsi 
e. Therapy yang diberikan :  
• IVFD : RL 20 tpm IV 
• Ceftriaxone : 1 x 2 gr IV 
• Lasix: 1x1 gr IV 
• Profenid 3x 1 Supp 
• Ciprofloxacin 1 x 500 mg PO  
• Neuralgad  1x 500 mg PO 

f. Resume Pasien  
Klien datang ke RSPAD Gatot Soebroto  tanggal 29 Mei 2013 dengan keluhan nyeri pinggang kanan dan nyeri saat berkemih menjalar sampai ke genitalia. Skala nyeri 4-5. Riwayat hematuria dan disuria.  Dari hasil USG terlihat ada batu pada ginjal sebelah kanan. Hasil BNO IVP terlihat batu ureter distal dextra. Hasil observasi TTV tanggal 29 Mei 2013 : TD : 110/70 mmHg, N : 80x/menit, S : 36 0 C dan RR : 12x/menit. Klien dilakukan operasi URS Litotripsi pada tanggal 30 Mei 2013. 

3.2  DATA FOKUS KLIEN DAN ANALISA DATA 
3.2.1 DATA FOKUS DATA SUBYEKTIF: 
• Klien mengatakan nyeri pada pinggang kanan sejak akhir tahun 2011 
• Klien mengatakan skala nyeri sedang  (4-5) 
• Klien mengatakan ketika berkemih seperti terbakar 
• Klien mengatakan berkemih sering namun tidak tuntas dan menetes diakhir 
• Klien mengatakan jarang minum air putih, gemar minum teh dan minuman bersoda 
• Klien mengatakan lebih sering berada di meja dalam ruangan ber AC 
• Klien mengatakan mulai jarang berolahraga 
• Klien mengatakan makanan kesukaan adalah ikan dan nugget. 
• Klien mengatakan tahun 2012 pernah berkemih dan berdarah, saat itu skala nyeri 5 dari 10. 
• Klien mengatakan cemas akan tindakan operasi yang akan dijalankan 
Asuhan keperawatan ..., Nova Indrawati, FIK UI, 2013
• Klien mengatakan tidak tahu apa saja yang bisa dilakukan agar tidak terkena batu ginjal 
• Klien mengatakan mengantuk setelah operasi, pusing bila mengangkat kepala 


3.2.2 DATA OBYEKTIF 
• Klien terlihat kesakitan, ekspresi menahan nyeri, setelah operasi masih merasakan nyeri disekitar genitalia 
• Klien terlihat cemas 
• Skala nyeri 4-5 dari 10 
• Perubahan pola berkemih: disuria 
• Riwayat hematuria tahun 2012 
• Klien terlihat melindungi area yang sakit 
• Klien terpasang IVFD RL : 20 tpm  
• Klien terlihat gelisah dan wajah tegang 
• Kecemasan  skala ringan karena masih terorientasi dengan waktu, tempat, dan orang. 
• Hasil Observasi TTV TD : 110/70 mmHg, S=36 0 N = 80x/menit, RR = 12 x/menit  C 
• Hasil pemeriksaan lab tanggal 14 Mei 2013  - Leukosit = 11.010 / ul - SGOT/SGPT = 40/91 
• Hasil pemeriksaan BNO IVP dan USG Abdomen: Batu ureter distal dextra 
• Penatalaksanaan URS Litotripsi tanggal 30 Mei 2013 
• Anestesi spinal 
• Tidak ada perdarahan post URS Litotripsi 
• Perencanaan pulang post op tanggal 31 Mei 2013 
• Terpasang kateter urine 18 Fr produksi kuning 

3.3  DIAGNOSA KEPERAWATAN 
1. Nyeri 
2. Gangguan eliminasi urine 
3. Ansietas 
4. Defisiensi pengetahuan terkait kondisi dan pengobatan batu saluran kemih 
5. Resiko Cedera

3.4 INTERVENSI KEPERAWATAN 
3.4.1 Diagnosa Keperawatan: Nyeri 
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam nyeri dapat  teratasi 
Kriteria Hasil: Nyeri berkurang, Skala nyeri menurun, klien dapat beristirahat dan tampak rileks Intervensi Keperawatan: 
a.  Kaji intensitas, lokasi, frekuensi dan penyebaran nyeri 
Rasional: Peningkatan nyeri adalah indikasi dari obstruksi, bila nyeri hilang kemungkinan batu sedang bergerak 
b.  Observasi abdominal pain 
Rasional:  Kemungkinan ada komplikasi lain 
c.  Kaji tanda keringat dingin, tidak dapat beristirahat, dan ekspresi wajah 
Rasional: Mengobservasi tanda-tanda shock 
d.  Tingkatkan pemasukan sampai 2500 ml/hari sesuai toleransi 
Rasional : menurunkan iritasi dengan mempertahankan aliran cairan konstan ke mukosa kandung kemih. 
e.  Berikan tindakan kenyamanan ( sentuhan terapeutik, pengubahan posisi, pijatan punggung ) dan aktivitas terapeutik. Dorong penggunaan teknik relaksasi, termasuk latihan napas dalam, visualisasi, pedoman imajinasi. 
Rasional: : menurunkan tegangan otot, memfokuskan kembali perhatian, dan dapat meningkatkan kemampuan koping f.  Kolaborasi pemberian analgetik sesuai indikasi Rasional: analgetik memblok lintasan nyeri sehingga mengurangi nyeri 

3.5 EVALUASI
Asuhan Keperawatan Urolithiasis Nanda Nic Noc Terbaru

BAB 5 PENUTUP 

5.1 Kesimpulan 
Berdasarkan asuhan keperawatan yang sudah diberikan kepada klien dengan batu saluran kemih, dapat ditarik beberapa kesempulan sebagai berikut : 
1. Dari hasil pengkajian didapati bahwa penyebab dari pembentukan batu saluran kemih yang dialami klien adalah adanya faktor resiko ekstrinsik yaitu rendahnya konsumsi air putih, pekerjaan yang monoton, dan tingginya konsumsi protein hewani.  
2. Masalah keperawatan yang muncul adalah nyeri, gangguan eliminasi urine, ansietas, defisiensi pengetahuan, resiko cedera, dan resiko perdarahan. 
3. Implementasi yang menjadi fokus utama dalam rangka prevensi kekambuhan ulang batu saluran kemih adalah edukasi psien terkait peningkatan intake cairan dan perubahan pola diit. 
4. Peningkatan intake cairan dan perubahan pola diit adalah salah satu metoda yang terbukti melalui beragam penelitian dapat meningkatkan volume urine sehingga mengurangi resiko pembentukan batu saluran kemih. 
5. Evaluasi keperawatan dilakukan secara kontinyu dan pasien pulang setelah melalui 3 hari perawatan dengan fungsi eliminasi sudah kembali normal.  

5.2 Saran 
1. Bagi Penulis 
a. Meningkatkan pemberian asuhan keperawatan pada klien dengan batu saluran kemih. 
b.  Dapat menciptakan/mengembangkan intervensi yang baru   (inovatif) dalam mengatasi masalah keperawatan yang ada

2. Bagi Masyarakat  
a.  Meningkatkan pemahaman tentang penyebab batu saluran kemih 
b.  Meningkatkan kebiasaan intake air putih minimal 2-2,5 L perhari. 

3.  Bagi Instansi/ Rumah Sakit  
a.  Mampu memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas bagi   pasien batu  aluran kemih 
b.  Meningkatkan pemahaman dan berpikir kritis dalam menghadapi  kasus batu saluran kemih. 


DAFTAR PUSTAKA 

Al-Ansari,A., Shamsodini,A., Younis,N., et al. (2005). Extracorporeal shock wave lithotripsy monotherapy for treatment of patients with urethral and bladder stone presenting with acute urinary retention.  Journal Urology; 66(6):1169-1171. 
Al-Kohlany, KM., Shokeir,AA., Mosbah,A., Mohsen, T., Shoma,AM., Eraky,I, et al. (2005). Treatment of complete staghorn stones : a prospective randomized comparison of open surgery versus percutaneous nephrolithotomy. J Urol; 173: 469 – 73. American Urological Association. (2005). AUA Guideline on the Management of Staghorn Calculi:Diagnosis and Treatment Recommendations.  Assimos
American Urological Association. (2005). AUA Guideline on the Management of Staghorn Calculi:Diagnosis and Treatment Recommendations.
Assimos, Dean G. and Holmes Ross. 2000. Role of diet in the therapy of urolithiasis.Vol 27. 2:255-268. The Urologic Clinic of North America. 
Badlani , GH. (2002). Campbell’s urology. In : Walsh PC.,eds. Saunders. Barclay L and Lie D. 2005. Obesity and weight gain may increase the risk of kidney stone. 293: 455-462 . JAMA 
Brunner & Sudarth. (2003). Buku ajar keperawatan medikal bedah. Jakarta: EGC 
Borghi L, Meschi T, Amato F, Briganti A, Novarini A & Giannini (1996): Urinary volume, water and recurrences in idiopathic calcium nephrolithiasis: a 5-year randomized prospective study. J. Urol. 155, 839– 843. 
Fillingham and Douglas. 2000. Urological nursing. Tokyo: Bailliere Tindall 
Flagg, Laura. 2007. Dietary and Holistic Treatment of Recurrent Calcium Oxalate Kidney Stones: Review of Literature toGuide Patient Education. Vol 7.(2). Urologic Nursing Journal. 
Ganong, W. 1992. Review of Medical Physiology. Fisiologi Kedokteran. . Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran. EGC.
Hesse, Alrecht, Goran, Tiselius. 2002. Urinary Stone Diagnosis, Treatment and Prevention of Recurrence: 2nd edition. 
Iguchi, M., Umekawa, T., Ishikawa . 1990.  Dietary intake and Habits of Japanese Renal Stone Patiens. J. Urol.; 1093-1095. 
Males, J. 1969. External factor in the genesis of urolithiasis. 59-60. London Churchill: Renal Stone Reserach Symposium. 
Menon, M., Martin I. 2002. Urinary lithiasis: etiology and endourolgy in Campbell’s Urology. 8th Edition. Vol.4: 3230-3292. Philadelphia: WB. Saunders Company.  
Muslim, Rifki. 2004. Pengaruh hifroklorotiazid dan natrium bikarbonat terhadap risiko kambuhan batu kalsium oksalat saluran kemih bagian atas. Disertasi S3 halaman 116-117.
Muslim, Rifki. 2003. Pengaruh diet terhadap terjadinya batu ginjal. 15-19. Jurnal Urologi Indonesia. 
Muslim, Rifki. 2007.  Batu Saluran Kemih Suatu Problem Gaya Hidup dan Pola Makan serta Analisis Ekonomi pada Pengobatannya. Pidato Pengukuhan. Diucapkan pada Upacara Penerimaan Jabatan Guru Besar Ilmu Bedah Fak. Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang, 3 Maret 2007. 
Najem G.R., Scebode J.J., Samady AD et al. 1997. Stressful life events and risk of symptomatic kidney stone. 26:  1017-1023. Int. J. Epidemiol
NANDA International. 2012. Nursing Diagnosis: definition and classification. Jakarta: EGC. 

0 Response to "Asuhan Keperawatan Urolithiasis Nanda Nic Noc Terbaru"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel